Akuntansi kerap dipahami sebagai disiplin yang netral, teknis, dan berorientasi pada angka. Cara pandang ini membuat akuntansi seolah terpisah dari persoalan sosial. Padahal, praktik dan kebijakan akuntansi selalu berkelindan dengan nilai, norma, dan relasi kekuasaan yang hidup di masyarakat. Queering accounting muncul sebagai pendekatan yang mengkritik batas-batas konvensional tersebut dan membuka ruang bagi isu keberagaman, khususnya terkait komunitas queering.
Pendekatan queering accounting melihat bahwa akuntansi tidak hanya mencatat realitas, tetapi juga membentuknya. Norma yang dominan secara tidak langsung dapat meminggirkan kelompok tertentu. Upaya menuju akuntansi yang inklusif menuntut perubahan yang lebih mendasar. Inklusifitas tidak berhenti pada pengakuan formal, tetapi menyentuh cara berpikir, mengajar, hingga merancang kebijakan.
Perubahan mulai tampak dalam berbagai lini. Di ruang kelas, muncul eksperimen pembelajaran yang lebih reflektif dan kritis terhadap isu identitas dan keberagaman. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami standar akuntansi, tetapi juga mempertanyakan siapa yang diwakili dan siapa yang terabaikan dalam praktik tersebut. Di ranah penelitian, semakin banyak kajian yang mengangkat pengalaman kelompok minoritas sebagai bagian penting dari realitas akuntansi. Sementara di dunia profesional, ada dorongan untuk menghadirkan kebijakan yang lebih terbuka dan tidak diskriminatif.
Media sosial menjadi ruang yang mempercepat perkembangan gagasan ini. Akademisi memanfaatkannya untuk berbagi pemikiran, membangun solidaritas, dan memperluas percakapan lintas batas geografis. Diskusi yang muncul tidak selalu seragam; justru perbedaan pandangan memperlihatkan bahwa isu ini sedang dinegosiasikan secara aktif.
Di sisi lain, penolakan tetap kuat. Sebagian kalangan beranggapan bahwa akuntansi seharusnya tetap “bersih” dari isu sosial. Ada pula resistensi yang berakar pada stigma terhadap komunitas queering. Reaksi ini menunjukkan bahwa perubahan yang diusulkan oleh queering accounting menyentuh wilayah yang sensitif, bukan hanya secara akademik, tetapi juga kultural.
Arah menuju akuntansi yang lebih inklusif tampak sebagai proses panjang yang tidak selalu mulus. Gagasan queering accounting menghadirkan cara baru dalam melihat peran akuntansi yang tidak hanya dilihat sekadar alat teknis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun ruang yang lebih adil bagi beragam identitas. inklusivitas menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan bagi masa depan ilmu pengetahuan.
Perjuangan pergerakan queering accounting ini juga menuntut keberanian akademisi dan praktisi untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa dorongan tersebut, gagasan inklusivitas berisiko berhenti sebagai wacana tanpa implementasi nyata. Keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci agar perubahan dapat bergerak lebih jauh.
Penulis: Prof. Dr. Hamidah, S.E., M.Si., Ak.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





