UNAIR NEWS – Membangun akses pendidikan dan menggerakkan ekonomi warga menjadi dua pilar pengabdian yang terus diperjuangkan drg Zahrotur Riyad. Alumnus Universitas Airlangga (UNAIR) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) ini telah lebih dari dua dekade dalam mendedikasikan dirinya di Kepulauan Galang, Batam.
Zahra, panggilan akrabnya, ia tidak hanya berfokus pada program kesehatan, namun juga di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Baginya, pengabdian ini tidak hanya lahir dari tugas atau profesi, melainkan atas dasar panggilan jiwa sebagai manusia. Selain itu, ia melakukan semuanya itu tanpa memandang suku, agama, maupun status sosial.
“Ini merupakan pengakuan kita sebagai manusia Indonesia, sebagaimana di pembukaan UUD yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga bukan hanya terbentuk pada seminar namun pada aksi nyata yang dilakukan,” ujar Zahra.
Buka Akses Pendidikan
Di balik latar belakangnya sebagai seorang dokter gigi, Zahra ingin membawa manfaat lebih, tidak hanya dalam ranah kesehatan. Untuk itu, selain membantu menangani masalah kesehatan gigi masyarakat, Zahra juga merintis akses pendidikan melalui program beasiswa SMP, SMA, hingga perguruan tinggi sejak 2018. Saat ini, lebih dari 40-50 anak mendapat bantuan rutin untuk membayar SPP. Bahkan terdapat 10 anak yang mendapatkan beasiswa lanjut hingga perguruan tinggi.

Menariknya, dana program ini terkumpul dari jejaring relawan yang tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri seperti Qatar dan Australia. “Setiap bulan ada dana untuk membayar SMP SMA. Dan setiap 6 bulan mengumpulkan dana untuk 10 orang yang kuliahnya,” lanjut Zahra.
Berdayakan Ekonomi Masyarakat
Tidak hanya memberikan kesempatan bersekolah untuk anak-anak setempat, Zahra juga merintis peternakan domba sebagai proyek pemberdayaan masyarakat. Domba-domba tersebut dipelihara masyarakat setempat, dan ketika saat Iduladha dijual. Sementara itu, keuntungannya kembali kepada peternak serta modal untuk membeli domba lagi. “Saya berharapnya dapat berkembang banyak, dan nantinya bisa meluas ke perikanan,” harapnya.
Lama mengabdi di Batam, Zahra merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan wilayah tersebut. Menurutnya, salah satu hal yang paling membekas adalah melihat kondisi kemiskinan ekstrem yang ditemui. Seperti hidup tanpa listrik, jauh dari akses pendidikan dan teknologi. Meski demikian, mereka menjalani kehidupan dengan penerimaan yang luar biasa.
Lebih dari itu, berbagai inisiatif yang Zahra berikan bersama rekan-rekannya ini mendapatkan respons yang sangat baik kepada masyarakat terutama terhadap program pendidikan dan beasiswa. Banyak orang tua maupun siswa yang antusias mengajukan bantuan.
Bawa Perubahan
Tentunya Zahra membawa perubahan yang signifikan bagi wilayah tersebut. Misalnya, ia berhasil membantu menurunkan angka kehamilan dan persalinan pada usia remaja. Selain itu, semakin banyak anak-anak dari pulau-pulau terpencil yang mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. “Ada sebuah cahaya yang, meskipun tidak 100 watt, tapi masih ada jalannya mereka untuk merancang masa depan,” tuturnya.
Harapannya, ia dapat memiliki kekuatan lebih untuk memperbanyak beasiswa pendidikan agar anak-anak dari daerah terpencil yang mendapatkan akses belajar yang layak. Kedua, ia ingin mewujudkan cita-cita membangun model rumah sakit terapung sebagai solusi akses layanan kesehatan di daerah kepulauan.
Penulis: Adinda Octavia Setiowati
Editor: Yulia Rohmawati





