Universitas Airlangga Official Website

Analising Penempatan Produk Virtual pada Kolaborasi NASA dan Star Trek

Ilustrasi nasa (foto: dok istimewa)

Penempatan produk (product placement) mengalami perubahan signifikan dari konsep awalnya yaitu dengan  penempatan produk di film dan program televisi menuju ke penempatan produk secara virtual (virtual product placement/VPP). VPP dimungkinkan karena adanya integrasi antara perangkat komputasional dengan citra merk pad tahapan pasca produksi. Pergeseran ini tidak hanya meluaskan variasi elemen-elemen yang dapat diintegrasikan ke dalam konten namun juga meningkatkan jangkauan dan efektivitas target periklanan. Dengan demikian, para produsen secara lebih efisien mengatur dan mengontrol profit iklan dengan memaksimalkan penggunaan VPP ini sebagai sebuah strategi periklanan. VPP ini memungkinkan iklan yang dibuat dengan menyesuaikan pada jangkauan lokasi yang berbeda yang merefleksikan variasi demografis.

Artikel ini meneliti tentang relasi antara film Star Trek: Into Darkness (2013) dan NASA dalam konteks implementasi VPP. Lebih lanjut tulisan ini juga mengungkap konsekuensi dan implikasi VPP dalam hal etika dan hukum dalam lingkup pemasaran serta potensi keunggulan dari strategi VPP ini. Analisis difokuskan pada implementasi etis dari VPP di dalam kreasi konten media termasuk ragam kendala yang dihadapi dalam menyeimbangkan antara integritas artistic dan masalah finansial dari VPP dalam film ini. Pendekatan semacam ini bertujuan untuk menghadirkan pemahaman yang komprehensif atas implementasi VPP sekaligus juga mengungkap kepatuhan VPP pada norma etika dan hukum yang relevan. Data primer berasal dari konten film sementara data sekunder bersumber dari materi-materi artikel jurnal, penelitian dan bahan promosi yang relevan. Film dianalisis dengan berfokus pada implementasi VPP termasuk integrasi aspek merk dari NASA, plot serta grafis yang digunakan dalam film.

VPP mengungguli penempatan produk konvensional bukan hanya disebabkan oleh efektivitas dalam hal finansial dan kapasitasnya menjangkau segmentasi pasar yang lebih spesifk, namun juga karena aspek kebebasan dalam kreativitasnya. Melalui penggunaan teknologi yang memungkinkan integrasi digital dari produk atau merk, VPP menawarkan kapabilitas untuk menciptakan pesan pemasaran yang dikostumisasi (personalisasi) denga akurasi yang lebih tinggi dengan mempertimbangkan faktor geografis, demografis dan perilaku konsumen. Secara spesifik VPP memberikan kemudahan bagi produsen untuk memodifikasi iklan atau display produk berdasar pada tren pasar atau selera local tanpa perlu melakukan perubahan fisik pada film seperti film Star Trek: Into Darkness tahun 2013. VPP dipergunakan dalam film ini secara efektif dengan menekankan pada merk dan aspek citra institusional dari NASA (National Aeronautics and Space Administration) yang diintegrasikan dengan lini cerita film. Penggunaan teknologi dalam VPP mempermudah penggambaran NASA yang adaptif dan dinamis dalam film dibandingkan dengan metode penempatan produk konvensional. Film Star Trek: Into Darkness menampilkan NASA melalui elemen-elemen visual seperti logo, desain interior, fasilitas yang secara efektif mengirimkan fitur-fitur spesifik dari NASA. Selain untuk mengangkat kredibilitas film, VPP juga menampilkan keunggulan pemasaran secara substansial dalam bisnis.

Tak banyak peneliti yang berfokus pada dimensi hukum dari potensi pelanggaran hak iklan saat jaringan bisnis media mengijinkan integrasi periklanan virtual daripada iklan konvensional. Isu pelanggaran hak cipta berkaitan dengan aksi reproduksi, distribusi, publikasi atau transformasi/modifikasi kerja hak cipta tanpa otorisasi dari pemilik hak cipta. Debat tentang VPP ini juga terkait dengan pertanyaan etika: apakah VPP ini termasuk dalam kategori penipuan atau bukan. Sebagaimana penyebaran iklan menipu dan berita hoaks di media sosial, kepedulian ditujukan pada public yang mengkonsumsinya. VPP mengeksploitasi persepsi publik/khalayak bahwa konten yang dikonsumsi merepresentasikan secara akurat realitas sosial. Namun yang patut dicatat adalah penggunaan VPP termasuk adanya modifikasi visual pada konten media tidak dimaksudkan untuk mengubah narasi konten media, namun lebih bertujuan komersial.

Star Trek dan NASA berada pada domain yang sangat berbeda, Star Trek berada pada realisme fiksi sains sementara NASA memiliki legitimasi sebagai lembaga eksplorasi sains. Namun keduanya juga memiliki tujuan yang sama yakni melebarkan batas-batas pengetahuan dan melakukan investigasi pada potensi yang dimiliki oleh alam semesta. Hal ini direfleksikan melalui nilai-nilai dan ide-ide politik negara Amerika Serikat lewat penggambaran aksi tokoh utama dalam film ini. Irisan tujuan antara Stra Trek dan NASA ini bukan hanya pada bentuk iklan namun lebih dari itu mengindikasikan kesamaan dedikasi demi kemajuan umat manusia dalam realisme alam semesta. Film Star Trek: Into Darkness dengan jelas memotret aspirasi ini dengan mengeksplorasi pengetahuan manusia sebagai elemen kunci dalam membangun narasi. Dengan demikian film ini berkait erat dengan tujuan dan aspirasi NASA dalam mengeksplorasi realisme alam semesta dan kemajuan teknologi. Namun bukan berarti hal ini tanpa risiko, karena asosiasi lembaga sains seperti NASA dengan film fiksi seperti Star Trek. Sebagaimana yang disajikan oleh NASA dalam websitenya, film Star Trek menyajikan teknologi seperti komunikator, computer pada pesawat luar angkasa, anti materi, android, tricorder, gravitasi buatan dan juga mesin warp. Untuk tujuan akurasi pada pemahaman tentang alam semesta dan teknologi, para pakar dari NASA secara regular memberikan umpan balik dan masukan pada produser film Star Trek. Melalui kemampuannya untuk menghubungjkan fiksi sains dengan pemahaman saintifik kontemporer, film Star Trek menyajikan perspektif dan eksplorasi teknologi masa depan, Konsep-konsep seperti porpulsi warp, teleportasi, komunikasi antar planet disajikan menjadi bagian dari cerita dan sumber diskusi terkait dengan masa depan dunia. Dalam konteks inilah, Star Trek berfingsi sebagai katalis untuk memperluas pemahaman dan kekaguman pada aspek keilmuan dan pengetahuan sekaligus juga memotivasi generasi muda untuk mencari inovasi dan informasi yang baru.

Keterlibatan aktif dan dukungan NASA untuk Star Trek tidak hanya berkontribusi pada konsolidasi koneksi merk keduanya namun juga pada penambahan derajat ketertarikan bagi penonton yang menggemari pengetahuan sains dan juga yang menggemari elemen narasi fiksi sains dalam film. Walaupun symbol NASA tidak secara eksplisit ditampakkan dalam film, namun asosiasi Star Trek dengan NASA, bahwa film ini mendapatkan inspirasinya dari NASA, dikenali oleh penonton. Hal ini karena penonton cenderung secara aktif menginterpretasikan merk: bahwa film yang mereka tonton erat kaitannya dengan identitas merk yang ada di dunia nyata. Ketiadaan symbol NASA dalam film ini juga berkait erat dengan penghindaran pada prinsip pelanggaran hak cipta.

Nama   : Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD

Link     : https://me.cherkasgu.press/journals_n/1733827534.pdf