Universitas Airlangga Official Website

Analisis Auto Local Threshold terhadap Karya Seni Prasejarah

Analisis Auto Local Threshold terhadap Karya Seni Prasejarah
Sumber: EtIndonesia

Perkembangan fotografi digital dan metode analisis sangat bermanfaat bagi studi seni gua prasejarah di Taman Purbakala Leang-Leang, Sulawesi Selatan, Indonesia. Auto Local Threshold Analysis (ALTA), sebuah teknik komputasi yang memungkinkan peneliti mendeteksi dan memperkuat gambar samar atau lapuk di dinding gua, adalah salah satu teknik utama yang digunakan untuk memeriksa dan meningkatkan visibilitas karya seni kuno ini. Beberapa seni cadas tertua yang diketahui, yang berasal dari puluhan ribu tahun yang lalu, dapat ditemukan di Leang-Leang, yang terkenal dengan stensil tangan dan representasi hewan liar. Sebagian besar karya ini telah memudar selama ribuan tahun karena keausan alami, sehingga sulit untuk dipelajari dengan mata telanjang. Dengan meningkatkan kontras dan memisahkan pigmen dari sekelilingnya, ALTA membantu mengatasi batasan ini.

ALTA sangat berguna untuk meningkatkan visibilitas seni gua yang samar. Metode ini menyesuaikan intensitas piksel pada tingkat lokal, berdasarkan kecerahan piksel di sekitarnya, yang memungkinkan diferensiasi karya seni yang pudar dari fitur permukaan alami gua. Dengan menganalisis segmen gambar secara individual daripada menerapkan ambang batas global, ALTA dapat mengakomodasi pencahayaan yang tidak merata dan variasi permukaan yang biasanya ditemukan di lingkungan gua dengan lebih baik. Pendekatan ini sangat efektif dalam mengungkap garis besar motif kuno, yang mungkin tidak terlihat dalam teknik fotografi atau pemindaian tradisional.

ALTA berperan penting dalam mengungkap fitur-fitur yang sebelumnya tersembunyi dalam lukisan gua di Leang-Leang. Misalnya, meniup pigmen pada telapak tangan yang ditekan ke dinding gua menghasilkan banyak stensil telapak tangan, yang merupakan penggambaran ikonik dalam seni cadas Indonesia. Stensil-stensil ini telah hilang seiring waktu karena kondisi lingkungan seperti endapan mineral dan erosi. Dengan mengidentifikasi perubahan kecil dalam warna dan tekstur, ALTA membantu membedakan cetakan telapak tangan lama ini dari material di sekitarnya, sehingga para peneliti memperoleh gambaran yang lebih baik tentang susunan dan distribusinya di seluruh gua.

Selain itu, penggunaan ALTA menghasilkan informasi yang berguna untuk meneliti unsur-unsur budaya dan gaya seni. Para peneliti dapat lebih tepat meneliti ciri-ciri gaya, seperti bentuk dan pola yang digunakan dalam stensil tangan dan penggambaran hewan, dengan mengisolasi dan meningkatkan kejelasan gambar yang samar. Pemahaman baru tentang metode artistik dan makna simbolis dari tema-tema ini bagi masyarakat manusia awal di daerah tersebut telah dihasilkan dari hal ini. Pemahaman tentang manifestasi budaya dari peradaban prasejarah ini telah ditingkatkan, terutama ketika karakteristik tertentu, seperti jari-jari yang memanjang atau penggambaran hewan yang khusus, terlihat.

Jika mempertimbangkan semua hal, ALTA merupakan terobosan besar dalam studi seni gua prasejarah, terutama dalam pengaturan yang sulit seperti Leang-Leang. Para peneliti dapat lebih tepat meneliti nilai visual dan budaya seni prasejarah berkat ALTA, yang memungkinkan untuk menganalisis karya seni yang telah memburuk seiring waktu. Selain melestarikan warisan masyarakat Indonesia masa lalu, metode ini menciptakan peluang untuk penemuan pelestarian warisan arkeologi dan budaya baru.

Penulis: Imam Yuadi, S.Sos., M.MT., Ph.D.

Artikel lengkap dapat dibaca di https://ieeexplore.ieee.org/abstract/document/10698828

Baca juga: Simbolisme Kesenian Pabitte Passapu Di Desa Tanah Towa, Bulukumba, Sulawesi Selatan