Pneumonia adalah penyakit infeksi yang mempengaruhi paru-paru, ditandai dengan akumulasi mikroorganisme, cairan, dan sel-sel inflamasi di kantung udara paru-paru yang dapat mengganggu fungsi paru-paru. Salah satu jenis pneumonia adalah bronkopneumonia, yang terjadi pada bronkus dan alveolus, yang disebabkan oleh peradangan atau infeksi akibat virus, bakteri, atau jamur, dan lebih sering dialami oleh anak-anak. Gejala yang sering terlihat adalah tachypnea (napas cepat), yang dihitung saat pasien dalam keadaan diam. Demam dapat meningkatkan frekuensi pernapasan sebanyak 10 napas per menit untuk setiap kenaikan suhu satu derajat Celsius.
Pneumonia merupakan suatu penyakit penyebab tingginya mortalitas pada anak di seluruh dunia. Kasus kematian pada anak usia kurang dari lima tahun karena pneumonia yaitu sebesar 740.180 anak. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur, pneumonia merupakan penyebab kematian kedua pada anak dan balita setelah diare. Pada tahun 2021, diperkirakan terdapat 65.449 kasus pneumonia di Provinsi Jawa Timur. Sementara itu, di Surabaya, jumlah kasus pneumonia pada tahun yang sama tercatat sebanyak 1.138 kasus.
Pemberian terapi antibiotik pada pneumonia disesuaikan dengan kemungkinan patogen penyebabnya, karena faktor etiologi pneumonia dapat bervariasi. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan obat meliputi usia pasien, riwayat paparan, potensi resistensi, serta gejala klinis yang muncul. Pengobatan empiris pertama untuk pasien pneumonia yang dirawat di rumah sakit, menurut pedoman dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE), melibatkan penggunaan antibiotik golongan beta-laktam, seperti sefalosporin (sefotaksim, seftralin, seftriakson, sefuroksim), dan piperasilin dengan tazobaktam.
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat mempengaruhi kegagalan hasil pengobatan, menyebabkan rawat inap berulang dan perpanjangan pengobatan sehingga mempengaruhi biaya pengobatan. Oleh karena itu diperlukan pengendalian biaya yang efektif dan efisien pada pengobatan bronkopneumonia. Dewanti Wardhani mahasiswa Program Studi S2 Magister Ilmu Kefarmasian melakukan penelitian disebuah Rumah Sakit di Surabaya, dengan subyek penelitian pasien bronko pneumonia balita yang menggunakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada periode Januari 2023-Maret 2023. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui besaran biaya medis langsung riil bronkopneumonia balita dan komponen penyusun biaya medis langsung riil di sebuah Rumah Sakit di Surabaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya untuk penanganan penyakit bronkopneumonia pada balita, berdasarkan perspektif Rumah Sakit, pada periode Januari 2023 hingga Maret 2023 adalah sebesar Rp 463.267.781, dengan rata-rata biaya per episode pasien rawat inap sebesar Rp 2.693.417. Komponen biaya pasien terdiri dari lima bagian, yaitu biaya jasa pelayanan medis, biaya tindakan keperawatan, biaya penunjang medik, biaya penggunaan fasilitas rumah sakit, dan biaya obat serta BMHP (Bahan Medis Habis Pakai). Biaya penggunaan fasilitas rumah sakit menyumbang 34,87% dari total biaya medis langsung riil pasien. Berdasarkan nilai rata-rata, komponen ini memiliki rata-rata biaya tertinggi di antara komponen biaya lainnya, yaitu sebesar Rp 939.201.
Biaya obat dan BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) merupakan komponen biaya terbesar kedua setelah biaya penggunaan fasilitas rumah sakit. Biaya ini mencakup obat-obatan untuk bronkopneumonia, seperti antibiotik, serta obat-obatan pendukung seperti oksigen, cairan infus, antipiretik, bronkodilator, dan kortikosteroid. Variasi dalam penggunaan antibiotik dapat mempengaruhi besaran biaya obat dan BMHP. Antibiotik adalah obat yang paling sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri, yang berujung pada peningkatan biaya perawatan pasien dan menurunkan kualitas pelayanan di rumah sakit tempat pasien dirawat.
Penulis: Dr. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm., Apt.
Link: https://sinta.kemdikbud.go.id/authors/profile/5987465/?view=googlescholar
Baca juga: Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Membangun Model Stunting pada Balita





