COVID-19 dan TB merupakan penyakit menular dan keduanya menyerang paru-paru. Kedua penyakit tersebut memiliki manifestasi klinis yang sama, seperti demam, batuk, dan gangguan pernapasan. Namun, masa laten COVID-19 lebih pendek daripada TB. Pengalaman infeksi COVID-19 pada penderita TB masih terbatas, tetapi diperkirakan penderita koinfeksi COVID-19-TB akan mengalami hasil pengobatan yang lebih buruk, terutama jika pengobatan TB dihentikan.
Studi klinis telah mengungkapkan asupan obat imunosupresif oleh orang yang terinfeksi COVID-19 dapat mengubah fungsi imunologis untuk sementara, sehingga menyebabkan kerentanan terhadap TB aktif melalui infeksi baru atau infeksi ulang. Selain itu, dari sudut pandang patologis, gangguan terkait imunomodulasi yang disebabkan oleh patogen COVID-19 dan TB menyebabkan respons inflamasi yang tidak stabil dan perkembangan serta memburuknya kedua penyakit tersebut. Dengan demikian, pada penelitian ini dikaji model matematika untuk mempelajari dinamika dan pengendalian koinfeksi COVID-19-TB.
Model koinfeksi lengkap dibagi menjadi dua submodel, yaitu model TB saja dan model COVID-19 saja. Keseimbangan situasi bebas penyakit dan endemik dari kedua submodel tersebut terbukti stabil secara asimtotik global ketika angka reproduksi masing-masing kurang dari satu. Namun, keseimbangan bebas penyakit dari model koinfeksi ditemukan kehilangan sifat stabilitas globalnya ketika angka reproduksi kurang dari satu. Hal ini menunjukkan adanya bifurkasi mundur. Analisis ketidakpastian dan sensitivitas dari angka reproduksi terkait dari model lengkap telah dilakukan dengan menggunakan metode Latin hypercube sampling/Pearson rank correlation correlation coordinate coefficiency (LHS/PRCC). Tingkat penularan COVID-19 dan proporsi individu yang divaksinasi dengan BCG dan terhadap COVID-19 ditemukan sangat signifikan dalam penyebaran dan pengendalian koinfeksi COVID-19-TB. Lebih jauh, hasil simulasi menunjukkan bahwa penurunan tingkat penularan COVID-19 dan peningkatan proporsi orang yang divaksinasi dengan BCG dan terhadap COVID-19 dapat menurunkan jumlah kasus koinfeksi COVID-19-TB. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan untuk mengurangi tingkat penularan dan meningkatkan proporsi orang yang divaksinasi terhadap TB dan COVID-19, seperti penggunaan masker wajah, praktik sanitasi yang baik, pendanaan vaksinasi yang besar, program, dan kampanye, harus diprioritaskan.
Penulis: Prof. Dr. Fatmawati, S.Si., M.Si.
Link: http://www.aimspress.com/article/doi/10.3934/mmc.2024018 Â
Baca juga:





