Universitas Airlangga Official Website

Analisis Faktor Risiko Kejadian Penyakit Demam Berdarah Di Indonesia

Ilustrasi demam berdarah (sumber; Liputan6)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan menyebabkan wabah di Indonesia.  Demam berdarah menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus dengue. Demam berdarah dapat terjadi setiap tahun dan menyerang semua kelompok umur. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit melaporkan bahwa sekitar 2,5 miliar orang, atau 40 persen populasi dunia, tinggal di daerah yang berisiko penularan demam berdarah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50-1 juta infeksi terjadi setiap tahun, termasuk 500.000 kasus demam berdarah dan 22.000 kematian. Virus Demam Berdarah banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis, terutama di daerah perkotaan dan pinggiran kota. Di Indonesia yang beriklim tropis sangat cocok untuk pertumbuhan hewan atau tumbuhan  baik bagi berkembangnya berbagai penyakit, terutama penyakit yang dibawa oleh vektor, yaitu organisme yang menyebarkan agen patogen dari inang ke inangnya, seperti nyamuk yang menularkan banyak penyakit.

Demam berdarah endemik di lebih dari 100 negara, Afrika, Amerika, dan beberapa negara Eropa lainnya. Pada tahun 2021, WHO memperkirakan terdapat sekitar 100-400 juta infeksi demam berdarah secara global setiap tahunnya. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita demam berdarah sebanyak 70% setiap tahunnya.  Indonesia menjadi yang teratas dalam daftar tersebut beberapa tahun lalu. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor risiko (pakaian gantung, kondisi tempat penampungan air, dan kader jumantik) dengan kejadian DBD.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan meta analisis. Meta-analisis memiliki empat tahapan yaitu abstraksi data, analisis data menggunakan JASP Versi 0.18.3, dan uji bias publikasi.  Melakukan uji heterogenitas, funnel plot, uji egger, dan forest plot. Uji heterogenitas variable pakaian gantung dan tempat penampungan air menggunakan model random effect karena  p < 0,05,  sedangkan kader jumantik menggunakan fixed effect model  karena p > 0,05 yaitu p = 0,303. Forest Plot tempat menggantung baju mempunyai nilai gabungan PR=e0,26 = 1,297 (95% CI -0,05-0,57), nilai tampungan air yang tertampung PR= e0,55 = 1,73 (95% CI 0,30 – 0,79), dan nilai gabungan kader jumantik OR= e0,70= 2,01 (95% CI 0,24 – 1,33). Faktor risiko tertinggi kasus DBD adalah kader jumantik dengan pooled value diperoleh PR = e0,70 = 2,01 (95% CI 0,24 – 1,33).   Kader jumantik mempunyai nilai faktor risiko yang paling besar dibandingkan variabel lainnya. Lingkungan masyarakat yang tidak memiliki kader jumantik memiliki risiko lebih besar terkena penyakit demam berdarah 2.01 dibandingkan lingkungan masyarakat yang memiliki kader jumantik. Faktor risiko tertinggi kedua terdapat pada tempat penampungan air, disusul variabel berikutnya yaitu menggantung pakaian.

Berdasarkan hasil meta analisis pada penelitian ini, kader jumantik memiliki nilai faktor risiko paling besar dibandingkan dengan variabel lainnya. Lingkungan yang tidak memiliki kader jumantik memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit demam berdarah yaitu 2,01 dibandingkan dengan lingkungan yang memiliki kader jumantik. Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah memperbanyak kader jumantik di setiap unit rumah tangga dan melakukan pengawasan terhadap keberadaan jentik nyamuk di setiap tempat penampungan air untuk dimusnahkan agar tidak menjadi nyamuk dewasa yang mengakibatkan penyakit demam berdarah.

Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes

https://e-journal.unair.ac.id/JKL/article/view/57086/31651