Universitas Airlangga Official Website

Analisis Faktor Risko Eritema Nodosum Leprosum pada Pasien Baru Kusta Multibasiler

Kusta Multibasiler

Masalah terbesar pada penyakit kusta adalah terjadinya komplikasi akut dan subakut yang disebut sebagai reaksi kusta. Reaksi kusta tipe 2 atau eritema nodosum leprosum adalah gangguan sistemik yang disebabkan oleh respon imun terhadap antigen M. leprae. Reaksi ini paling banyak terjadi pada kusta tipe multibasiler dengan timbulnya banyak nodul eritematosa di seluruh tubuh yang disertai gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, dan neuropati. ENL dapat timbul sebelum, saat, atau setelah mendapatkan multidrug therapy dan beberapa faktor risiko dapat meningkatkan risiko terjadinya ENL.

Sifat ENL yang kronik dan rekuren menunjukkan reaksi ini dapat terjadi berulang kali dan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, status ekonomi, dan meningkatnya kemungkinan dirawat, bahkan kematian. Perhatian khusus layaknya diberikan kepada pasien dengan ENL agar mendapatkan terapi secara cepat dan tepat. Penelitian mengenai faktor risiko dari ENL pada diagnosis kusta akan meningkatkan keawasan dokter untuk memantau pasien secara ketat dan berkala, serta menekankan pentingnya pemberikan edukasi terkait komplikasi ENL baik tanda, gejala, maupun terapi dari reaksi tersebut, dengan begitu juga dapat meningkatkan kepatuhan pasien saat mendapatkan pengobatan kusta dengan MDT ataupun pengobatan untuk reaksi ENL.

Berawal dari dasar teori tersebut, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait ENL. Pada penelitian ini dilakukan analisis retrospektif dengan cara mengumpulkan data rekam medis selama 3 tahun dengan masa pengamatan minimal 2 sampai 5 tahun pada pasien kusta multibasiler yang datang ke Divisi Kusta Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa kusta tipe LL (OR = 78,664; 95% CI = 13,635-453,827; p < 0.0001) dan BL (OR = 24,756; 95% CI = 5,052-121,320; p < 0.0001), serta koinfeksi (OR = 42,963; 95% CI = 3,778-488,585; p = 0.002) merupakan faktor risiko dari ENL yang berperan secara signifikan. Sedangkan jenis kelamin, usia, domisili, BI, MI, status gizi tidak meningkatkan risiko kejadian ENL. Pasien ENL sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia 20-40 tahun, dengan indeks bakteri 3+ dan indeks morfologi yang positif, berdomisili di Surabaya, serta memiliki berat badan normal.

Pemeriksaan yang komprehensif terhadap kemungkinan adanya faktor risiko terutama tipe kusta dan koinfeksi serta pengobatan yang dini dan tepat sangat penting untuk membantu menurunkan morbiditas ENL. Selain itu, peningkatan kewaspadaan terhadap faktor risiko ENL, edukasi, serta pengawasan yang ketat untuk kontrol rutin juga sangat penting untuk dilaksanakan.

Penulis : Dr. M.Yulianto Listiawan,dr.Sp.KK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://www.ijl.org.in/article-detail/93/383

The Risk Factor Analysis of Erythema Nodosum Leprosum in a Tertiary Hospital in Surabaya, Indonesia

Cindy Fransisca , Maylita Sari , M. Yulianto Listiawan