Cakupan imunisasai masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia walaupun program imunisasi telah tersedia secara gratis. Imunisasi menjadi bagian penting dalam program pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia, hanya 35,8% anak usia 12 hingga 23 bulan yang menerima imunisasi dasar lengkap. Dibandingkan dengan tahun 2018, cakupan imunisasi dasar lengkap untuk kelompok usia ini pada tahun 2023 tidak mencapai target dan bahkan mengalami penurunan. Menurut WHO tahun 2024, dari total 21 juta anak, kurang dari 60% tinggal di 10 negara saja, salah satunya adalah Indonesia
Permasalahan cakupan imunisasi dapat diperparah dengan berbagai faktor. Beberapa diantaranya adalah kesenjangan geografi, persepsi masyarakat terhadap vaksin, serta ketimpangan distribusi tenaga kesehatan. Selain itu, jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan berkontribusi pada keterlambatan imunisasi. Untuk mencapai cakupan imunisasi yang tinggi dan merata, penting untuk memahami hambatan akses dan pemanfaatan, serta faktor-faktor yang memengaruhinya di antara kelompok populasi.
Aceh merupakan salah satu provinsi dengan capaian imunisasi terendah, dengan cakupan UCI hanya 3,9% pada tahun 2023. Oleh karena itu, kami mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi dalam cakupan imunisasi di Provinsi Aceh dan mengeksplorasi penggunaan analisis spasial dalam mendukung perencanaan mikro (microplanning) imunisasi. Kami menemukan bahwa rata-rata cakupan UCI mencapai 24.18% dan cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 55.85%.
Kami juga menemukan bahwa kabupaten dengan cakupan UCI dan imunisasi dasar lengkap yang rendah mempunyai sumber daya sumber daya manusia yang terbatas, fasilitas kesehatan yang tidak memadai, dan proporsi populasi berisiko tinggi yang tinggi. Selain itu, pendekatan kualitatif mengungkap sejumlah tantangan operasional dalam pelaksanaan program imunisasi di wilayah tersebut. Kami juga mengidentifikasi titik-titik rawan di wilayah studi. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah geografis menjadi masalah krusial di wilayah studi.
Untuk mengatasi tantangan tersebut kami melakukan pelatihan analisis spatial untuk meningkaykan
Dalam penelitian ini, kamu juga melakuka pelatihan penggunaan teknologi sistem informasi geografi untuk membuat peta dalam penyusunan microplanning. Hasil pre- dan post-tets menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta. Peserta juga melaporkan bahwa penggunakan teknologi lebih praktis dan mampu mengindentifikasi wilayah yang berisiko tinggi dan penyusunan distribusi logistik.
Penelitian ini merekomendasikan bahwa perlunya integrasi pemetaaan dalam perencanaan mikro dalam program imunisasi. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam penggunaan teknologi ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi di wilayah berisiko tinggi.
Full artikel dapat diakses di:
Astutik, E., Hargono, A., Artanti, K. D., Hidajah, A. C., Husnina, Z., Sari, S. S. N., Sitohang, R. V., Surya, A., Hapsari, R. B. and Feletto, M. (2025) “SPATIAL ANALYSIS FOR MICROPLANNING TO ADDRESS IMMUNIZATION INEQUALITIES IN INDONESIA”, Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia), 13(1), pp. 68–81. doi: 10.20473/jaki.v13i1.2025.68-81.
Penulis: Erni Astutik, S.K.M., M.Epid
Link: https://e-journal.unair.ac.id/JAKI/article/view/71305/35514





