Perubahan iklim global telah menjadi tantangan utama bagi ekosistem dunia, terutama di kawasan terestrial yang mencakup sepertiga dari permukaan Bumi. Salah satu faktor utama yang memengaruhi suhu permukaan adalah perubahan penggunaan dan tutupan lahan (Land Use and Land Cover/LULC), terutama di wilayah perkotaan. Urbanisasi yang pesat mengganggu keseimbangan energi permukaan Bumi, sehingga memicu tren pemanasan suhu global. Parameter penting yang digunakan untuk menilai dampak perubahan iklim ini adalah Land Surface Temperature (LST), yang berfungsi sebagai indikator utama dalam memahami fluks energi gelombang panjang di atmosfer.
Di Australia, peningkatan LST sering kali dikaitkan dengan konversi lahan berhutan menjadi kawasan urban. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi dan percepatan urbanisasi menjadi prediktor utama meningkatnya LST (Fonseka et al., 2019; Mustafa et al., 2020; Wang et al., 2018a). Namun demikian, belum banyak studi yang secara khusus menyoroti bagaimana LST berubah di wilayah terpencil dan berhutan seperti Kepulauan Tiwi di Northern Territory, Australia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan LST di Kepulauan Tiwi selama periode 2000–2019 dan menilai tren pemanasan atau pendinginan yang terjadi. Data LST diperoleh dari satelit MODIS Terra (https://modis.ornl.gov) yang direkam setiap 8 hari kemudian dikonversi dari Kelvin ke Celsius. Metode analisis yang digunakan adalah model autoregresi (AR) orde 2 dan regresi multivariat dengan cubic spline untuk mengoreksi pola musiman dan menangani kekosongan data.
Percepatan perubahan suhu dianalisis dengan turunan kedua spline pada titik simpul tertentu. Secara umum, suhu permukaan tanah di Kepulauan Tiwi menunjukkan tren stabil dan cenderung menurun sebesar 0,057°C per dekade. Satu sub-wilayah dengan hutan tanaman yang padat mengalami penurunan signifikan sebesar 0,593°C per dekade. Enam dari sembilan sub-wilayah menunjukkan tren pendinginan, sementara tiga lainnya mengalami sedikit pemanasan, namun tidak signifikan. Kepulauan Tiwi merupakan kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan rumah bagi ribuan tumbuhan dan hewan endemik. Stabilitas LST di Kepulauan Tiwi dikaitkan dengan dominasi tutupan vegetasi (90% berupa hutan tertutup) dan minimnya area terbangun (0,01%).
Evapotranspirasi dari vegetasi berperan dalam penurunan suhu melalui pelepasan uap air dan penyerapan karbon. Studi ini menunjukkan bahwa kawasan dengan tutupan vegetasi luas dapat menjadi penyangga iklim lokal yang efektif. Sebaliknya, urbanisasi yang cepat tanpa ruang hijau akan mendorong pemanasan LST. Kegiatan penanaman hutan dan diversifikasi jenis tanaman berperan penting dalam menurunkan konsentrasi karbon di atmosfer, sehingga secara lokal mampu menurunkan LST. Oleh karena itu, pendekatan konservasi dan diversifikasi vegetasi di daerah tropis seperti Tiwi sangat penting dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim global.
Penulis: Tofan Agung Eka Prasetya, S.Kep., M.KKK., Ph.D.
Artikel selengkapnya dapat diakses melalui: https://www.appleacademicpress.com/engineering-design-and-technical-applications-of-physical-science-an-integrated-approach-for-sustainable-development/9781774917527





