UNAIR NEWS – Sebagai langkah dalam menumbuhkan kepedulian terhadap hewan yang hampir punah, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kuliah tamu yang membahas konservasi badak. Acara yang diinisiasi oleh Wildlife Animal Care (WLAC) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HMKH) tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (25/10/2025).
Acara yang bertajuk Konservasi Badak Indonesia: Peran Strategis Dokter Hewan dalam Wildlife Care tersebut menghadirkan Koordinator Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera (SRS) Yayasan Badak Indonesia (YABI) drh Dedy Surya Pahlawan. Mengawali pemaparan, ia menjelaskan bahwa terdapat lima spesies badak di dunia. Antara lain badak putih, Badak India, Badak Hitam, Badak Jawa, dan Badak Sumatra.
Keberadaan Badak Jawa dan Badak Sumatra hanya ditemukan di Indonesia. Namun, populasinya berada pada tahap critically endangered karena jumlahnya semakin turun dan terancam punah. Perbedaan yang paling terlihat dari keduanya terdapat pada jumlah cula. Badak Sumatra atau hairy rhino memiliki dua cula, sedangkan Badak Jawa bercula satu.
Ancaman Konservasi
Dedy menyebut ada beberapa ancaman dalam konservasi badak, antara lain adalah perburuan silang. Seperti saat sebelum tahun 2023 terdapat kasus perburuan Badak Jawa yang diberitakan bahwa lebih dari 20 ekor badak dinyatakan hilang. Hal ini diduga karena ulah manusia.
“Kita temukan beberapa badak yang memang culanya telah dipotong. Ternyata sampai saat ini masih tinggi demand dari badak,” paparnya.
Ancaman berikutnya adalah kehilangan habitat. Pada Badak Sumatra, jumlahnya semakin parah karena sifat badak yang soliter. Kondisi ini menyebabkan minimnya interaksi antar badak yang menyebabkan sulit terjadinya perkawinan. Pada Badak Sumatra, semakin tingginya jumlah penduduk menyebabkan terdorongnya Badak Jawa yang asalnya dari wilayah Jawa Tengah berpindah ke ujung paling barat pulau Jawa.
“Tahun 1985–1991 dilakukanlah konservasi Badak Sumatra. Tujuannya untuk dikembangbiakkan dan dipelajari, lalu dikirim ke beberapa kebun binatang, seperti Asia, Eropa, dan Amerika, termasuk di Indonesia. Dari program ini, ada 46 badak yang terselamatkan, tetapi banyak yang tidak bertahan di penangkaran,” jelasnya.
Posisi Badak dalam Ekosistem
Selanjutnya, Dedy menjelaskan peran badak dalam ekosistem hutan. Ternyata, perannya cukup besar bagi makhluk hidup. Badak memiliki posisi paling puncak yang memberikan kehidupan bagi hewan lain. Sebagai hewan herbivora, badak sering memakan pucuk daun dan buah.
Pucuk daun yang dimakan tersebut menyebabkan pohon lebih banyak menghasilkan daun dan ranting yang berdampak pada semakin kuatnya batang pohon sebagai sistem pertahanan dari tumbuhan.
“Badak ini ternyata bila memakan pucuk daun dan buah-buahan kemudian menyebarkan. Iaa memberikan kesempatan tumbuhan-tumbuhan itu untuk tumbuh dan tersebar di tempat-tempat lain yang dijadikan pakan untuk hewan lain,” pungkasnya.
Penulis: Uswatun Khasanah
Editor: Yulia Rohmawati





