Universitas Airlangga Official Website

Ancaman Resistensi Antimikroba pada Unggas: Bukti dari Pasar Tradisional di Aceh dan Implikasinya bagi Kesehatan Masyarakat

Ilustrasi Ayam Petelur Jantan (Sumber: Tribun Jabar)
Ilustrasi Ayam Petelur Jantan (Foto: Tribun Jabar)

Resistensi antimikroba (AMR) pada hewan ternak terus meningkat dan kini menjadi isu global yang sangat mengkhawatirkan. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, penggunaan antimikroba yang tinggi pada sektor peternakan telah memicu munculnya berbagai strain bakteri resisten, terutama pada usaha perunggasan. Antibiotik yang digunakan secara berlebihan, baik sebagai pemacu pertumbuhan maupun untuk pencegahan penyakit, berkontribusi besar terhadap berkembangnya bakteri multidrug-resistant (MDR). Salah satu bakteri yang paling sering terlibat dalam fenomena ini adalah Escherichia coli, yang secara alami ditemukan pada unggas dan hewan ternak lainnya, dengan variasi mulai dari strain komensal hingga patogen. Di Indonesia, sebagian besar penelitian terkait AMR berfokus pada deteksi resistensi di tingkat peternakan, sementara kajian mengenai resistensi di lingkungan pasca-peternakan seperti pasar tradisional dan rumah potong ayam masih sangat terbatas, khususnya di negara berkembang.

Pasar tradisional menjadi perhatian penting karena menyediakan kondisi yang memungkinkan bakteri resisten bertahan, berkembang, dan menyebar, serta berpotensi menimbulkan paparan langsung kepada konsumen. Meskipun demikian, area ini masih kurang dieksplorasi. Beberapa penelitian sebelumnya di Indonesia telah menunjukkan tingginya prevalensi E. coli resisten antibiotik pada daging ayam dan swab kloaka yang dijual di pasar tradisional di Cibinong (Jawa Barat) dan Jember (Jawa Timur). Penelitian lainnya juga melaporkan tingginya resistensi terhadap berbagai antibiotik pada isolat E. coli dari daging ayam di rumah potong unggas di Jawa Timur, dengan 59,3% isolat menunjukkan fenotipe MDR. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa AMR merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang semakin serius, mengancam keamanan pangan, mempermudah transmisi zoonosis, dan mengurangi efektivitas pengobatan antibiotik yang penting. Walaupun literatur mengenai AMR pada produksi ternak semakin berkembang, sebagian besar penelitian di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya masih terfokus pada surveilans tingkat peternakan. Penelitian umumnya menggunakan sampel swab kloaka, feses, atau daging ayam segar yang dikumpulkan langsung dari farm. Sementara itu, lingkungan pasca-peternakanyang  menjadi titik kritis dalam rantai paparan—sering kali terabaikan. Pasar tradisional, yang ditandai oleh keterbatasan infrastruktur sanitasi, tingginya interaksi manusia-hewan, serta kontak dekat antara daging mentah dan konsumen, merupakan lingkungan yang ideal bagi bakteri MDR untuk bertahan dan menyebar. Namun, bukti ilmiah dari pasar tradisional masih sangat terbatas. Penelitian sebelumnya memang telah mendeteksi E. coli MDR pada daging ayam dan swab kloaka di pasar-pasar di Jawa, tetapi kajian yang mengevaluasi jalur kontaminasi lebih luas misalnya dari tangan penjual dan permukaan display masih jarang dilakukan.

Selain itu, hanya sedikit penelitian global yang menerapkan pendekatan triangulasi One Health yang mengintegrasikan sampel hewan, manusia, dan lingkungan dalam satu ekosistem pasar tradisional. Ketiadaan pendekatan komprehensif ini menyisakan ketidakpastian mengenai rute transmisi AMR di pasar unggas informal serta kontribusinya terhadap risiko kesehatan masyarakat. Untuk mengisi kesenjangan tersebut, penelitian ini menerapkan kerangka sampling One Health terintegrasi untuk menyelidiki keberadaan dan pola resistensi E. coli dari ayam pedaging dan lingkungan terkait di pasar tradisional di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi E. coli dari berbagai jalur transmisi, termasuk sampel feses, daging ayam, tangan penjual, dan permukaan display; mengarakterisasi profil resistensi isolat terhadap 11 antibiotik yang umum digunakan dalam pengobatan hewan maupun manusia; serta membandingkan pola resistensi berdasarkan lokasi pasar dan jenis sampel. Mengintegrasikan kompartemen hewan, manusia, dan lingkungan dalam satu lokasi pasar, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang ekologi AMR di pasar tradisional. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang intervensi berbasis risiko, mendukung pengembangan strategi surveilans terpadu, dan memperkuat kebijakan tata kelola penggunaan antimikroba dalam konteks Indonesia maupun negara lain dengan sistem pemasaran informal yang serupa.

Penulis: Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., M.P

Nama jurnal: Veterinary World

Link jurnal: https://veterinaryworld.org/Vol.18/October-2025/17.pdf