UNAIR NEWS – Indonesia memiliki beraneka ragam rumah adat yang menjadi kebanggan sekaligus identitas kelompok etnik. Namun, di era modern eksistensi rumah adat semakin berkurang, sehingga banyak yang telah melupakan bentuk aslinya. Berawal dari keinginan untuk melestarikan warisan budaya tersebut, mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) menciptakan sebuah inovasi yang berguna mengenalkan rumah adat Nusantara dalam ajang Data Science Competition (DSC) LOGIKA 2025.
Tim tersebut beranggotakan Muhammad Firdaus, Elzandi Irfan Zikra, dan Dyah Ayu Retnoningsih. Mereka berhasil membawa inovasi sistem pengenalan rumah adat di kancah nasional yang diprakarsai oleh Universitas Indonesia hingga menorehkan gelar juara 3.
Pelestarian Warisan Budaya
Ketua Tim, Muhammad Firdaus, menjelaskan bahwa sistem yang mereka kembangkan berfungsi untuk mengenali berbagai jenis rumah adat Nusantara. Tim merancang inovasi tersebut untuk mendukung edukasi budaya Indonesia, khususnya dalam memperkenalkan rumah adat, melalui pendekatan yang lebih mudah dan modern.
“Sistem ini kami bangun dengan mengolah ratusan gambar rumah adat, lalu melatih model agar mampu mengenali ciri khas tiap rumah adat. Seperti bentuk atap, pola dinding, dan struktur bangunan,” ujar Daus.
Dalam proses pengembangannya, tim menerapkan metode pengolahan gambar yang sistematis untuk memastikan model mampu mengenali rumah adat secara akurat. Tim memilih pendekatan tersebut untuk menyesuaikan jumlah dataset yang cukup terbatas.
“Kami menggunakan pendekatan pengolahan gambar yang sederhana dan mudah dipahami. Seperti foto-foto rumah adat kami bersihkan, kami perbaiki kualitasnya, lalu model kami latih agar bisa membedakan tiap jenis rumah adat. Kami juga menambah variasi gambar, misalnya dari sudut dan kondisi cahaya yang berbeda agar sistem lebih siap menghadapi kondisi di dunia nyata,” tutur Daus.
Harapan Besar
Ketika tahap presentasi final dari proyek tersebut, Daus dan tim sempat menjumpai tantangan. Tim menghadapi benturan jadwal yang cukup kompleks karena dua kompetisi besar berlangsung pada hari yang sama. “Untuk mengatasi benturan jadwal, kami menyiapkan semua materi dan pembagian tugas dengan sangat rapi, sehingga siapa pun di tim bisa menjawab pertanyaan juri,” ucapnya.
Pada akhir, Daus menyampaikan rencana pengembangan proyek menjadi aplikasi sederhana yang lebih mudah masyarakat luas akses. Dengan itu, mereka berharap proyek tersebut tidak sekadar ide yang tertuang dalam kompetisi, tetapi dapat menjangkau manfaat dalam pelestarian budaya Indonesia.
“Kami berencana memperluas jenis rumah adat yang bisa dikenali sistem ini dan menambah lebih banyak variasi gambar. Selain itu, kami ingin mengembangkan versi aplikasi sederhana yang bisa dipakai pelajar atau masyarakat untuk mengenali rumah adat hanya dengan mengunggah foto,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Khefti Al Mawalia





