Universitas Airlangga Official Website

Apakah Kesehatan Usus Memiliki Pengaruh pada Hormon “Kejantanan” Pria?

Mengupas Dampak Psikologis pada Pasien Kanker Kandung Kemih di Indonesia
Ilustrasi pria dewasa (Sumber: Halodoc)

Ada kalimat yang saat ini sering trend di kalangan peneliti dan juga para pegiat kesehatan, “ususmu adalah otak kedua dalam tubuhmu”. Kalimat ini memiliki arti yang dalam mengenai kesehatan usus yang berdampak luas pada kesehatan organ lain dalam tubuh. Apa yang masuk ke dalam tubuh manusia dan bagaimana pola makan manusia tidak hanya akan berdampak pada berat dan turunnya massa tubuh namun memiliki dampak luas pada kerja dari organ-organ lain bahkan organ yang jauh dari usus sekali pun.

Konsep ini didasarkan pada aktivitas “flora normal” atau dikenal juga mikrobioma. Mikrobioma adalah kumpulan semua taksa yang membentuk komunitas mikroba dalam organ atau sistem tertentu. Bakteri merupakan sekitar 99% dari semua mikrobioma dalam tubuh manusia, sedangkan mikroorganisme lain, seperti virus, archaea, protozoa, dan jamur, merupakan 1% sisanya. Mikrobioma usus manusia memiliki kepadatan dan jumlah mikroorganisme tertinggi, dengan usus halus dan usus besar berbeda dalam kelimpahan relatifnya (kepadatan yang lebih besar di ujung distal daripada di ujung proksimal) Triliunan mikroba menghuni usus individu yang sehat, dengan bagian usus yang berbeda menyimpan mikroorganisme yang berbeda.  Konsep ini menjadi salah satu bidang yang banyak ditekuni saat ini.

Berbagai macam mikrobioma usus telah banyak dilaporkan, seperti  filum Bacteroidetes, Firmicutes, Actinobacteria, Proteobacteria, dan Verrucomicrobia. Namun, jumlah dan keanekaragaman spesiesnya sangat bervariasi. Keberagaman mikrobiome usus dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genotipe, indeks massa tubuh (BMI), gaya hidup, aktivitas fisik, serta kebiasaan diet dan budaya.

Menariknya, mikrobioma usus juga berkomunikasi dengan otak melalui poros usus-otak. Mikrobioma usus terlibat dalam pengembangan, pematangan, modulasi, dan stimulasi inang mereka. Selain itu, mikrobiota usus mengatur metabolisme dengan memproduksi vitamin dan asam lemak rantai pendek. Mikrobioma usus berinteraksi dengan usus secara lokal; mikrobioma usus juga berinteraksi dan mempengaruhi organ-organ yang lebih jauh seperti jaringan adiposa, hati, pankreas, sistem kardiovaskular, otak, paru-paru, dan sistem reproduksi. Luasnya peranan mikrobiome ini dalam berinteraksi dengan oragan tubuh lain lah yang mendasari bahwa aktivitas mereka juga turut andil dalam produksi hormon reproduksi. Interaksi antara mikrobioma usus dan hormon reproduksi pertama kali diperkenalkan oleh Flak, Neves & Blumberg (2013) dengan istilah ‘’microgenderome’’. Interaksi mikrobiome usus dan hormon reproduksi seperti testosterone pada laki-laki dilaporkan kemungkinan saling timbal balik.

Penelitian telah menunjukkan kemungkinan hubungan antara mikrobioma usus dan kadar androgen pada pria. Androgen dapat mengubah flora usus secara mendalam melalui jalur yang kompleks melaporkan efek kausal SHBG pada mikrobiota usus. Kadar SHBG yang lebih tinggi pada pria dikaitkan dengan Dorea dan Clostridiales. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa mikrobioma usus memengaruhi produksi testosteron melalui berbagai mekanisme. Salah satu jalur yang diusulkan melibatkan modulasi sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG), di mana mikrobiota usus dapat memengaruhi pelepasan hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dan, akibatnya, hormon luteinizing (LH), yang menstimulasi sintesis testosteron di testis. Selain itu, mikroba usus tertentu memiliki enzim pengolah steroid yang secara langsung dapat memengaruhi metabolisme androgen, yang berkontribusi pada kadar testosteron dalam sirkulasi.

Hasil telaah sistematis kami terhadap ratusan artikel yang membicarakan topik ini adalah adanya korelasi positif yang signifikan antara mikrobioma usus dan kadar testosteron pada pria. Beberapa mikroba memainkan peran penting dalam produksi testosteron. Ruminococcus menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan kadar testosteron daripada mikroorganisme lainnya. Mikrobioma usus memiliki korelasi yang kompleks dengan metabolisme testosteron. Namun, mikrobioma dengan pengaruh paling signifikan terhadap kadar testosteron tidak dapat dengan mudah diidentifikasi dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Penulis: Cennikon Pakpahan

Sumber:

Pakpahan C, Laurus G, Hartanto MC, Singh R, Saharan A, Darmadi D, Rezano A, Wasian G. 2025. Potential re- lationship of the gut microbiome with testosterone level in men: a systematic review. PeerJ 13:e19289 http://doi.org/10.7717/peerj.19289