Selama satu dekade terakhir, mikrobioma usus manusia sering disebut sebagai “pemain utama” yang menghubungkan gaya hidup dengan kesehatan metabolik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa komposisi bakteri usus dapat memengaruhi sensitivitas insulin, metabolisme lemak, serta proses inflamasi kronis tingkat rendah yang berkaitan dengan obesitas dan penyakit kardiometabolik. Salah satu mekanisme yang sering dibahas adalah produksi short-chain fatty acids (SCFAs) oleh bakteri usus yang berperan dalam regulasi metabolisme dan sistem imun.
Namun, apakah setiap perubahan gaya hidup langsung diikuti perubahan pada mikrobioma usus?
Sebuah penelitian intervensi terbaru yang dianalisis dalam Journal of Physiology memberikan perspektif yang menarik. Penelitian tersebut mengevaluasi efek kombinasi pembatasan energi dan olahraga intensitas tinggi selama tiga minggu terhadap metabolisme tubuh dan komposisi mikrobioma usus pada manusia. Hasilnya cukup mengejutkan. Meskipun peserta mengalami perbaikan metabolik yang nyata—seperti penurunan berat badan, massa lemak, lingkar pinggang, kadar insulin puasa, serta perbaikan sensitivitas insulin—komposisi mikrobioma usus mereka hampir tidak berubah.
Temuan ini menantang asumsi yang selama ini banyak diyakini dalam bidang mikrobioma. Banyak peneliti sebelumnya beranggapan bahwa perbaikan metabolik akibat diet atau olahraga terjadi karena perubahan komposisi bakteri usus. Namun hasil studi ini menunjukkan bahwa adaptasi metabolik awal dapat terjadi tanpa perubahan mikrobioma yang terdeteksi. Dengan kata lain, tubuh manusia mungkin memiliki mekanisme intrinsik yang mampu memperbaiki metabolisme secara cepat, bahkan sebelum komunitas mikroba usus ikut berubah.
Mengapa mikrobioma tampak “stabil”? Salah satu penjelasan adalah resiliensi mikrobioma dewasa. Komunitas mikroorganisme dalam usus manusia cenderung stabil dan tahan terhadap gangguan jangka pendek. Perubahan signifikan biasanya memerlukan intervensi yang lebih lama atau perubahan pola makan yang drastis. Karena dalam penelitian ini komposisi diet dijaga ketat meskipun jumlah kalorinya dikurangi, sinyal ekologis yang biasanya mengubah mikrobiota mungkin tidak cukup kuat untuk memicu perubahan komunitas bakteri.
Menariknya, penelitian lain yang berlangsung lebih lama—misalnya program olahraga selama enam minggu—menunjukkan bahwa perubahan mikrobioma memang dapat terjadi jika intervensi dilakukan lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara tubuh manusia dan mikrobioma bersifat dinamis dan bergantung pada waktu.
Implikasi dari temuan ini cukup penting. Pertama, perbaikan kesehatan metabolik melalui diet dan olahraga tidak selalu memerlukan perubahan mikrobioma secara langsung. Kedua, para peneliti perlu berhati-hati ketika mengaitkan perubahan kesehatan metabolik dengan mikrobioma tanpa bukti kausal yang kuat.
Ke depan, penelitian yang menggabungkan analisis metabolit mikroba, metabolomik setelah makan (postprandial metabolomics), serta observasi jangka panjang diperlukan untuk memahami kapan dan bagaimana mikrobioma benar-benar berperan dalam kesehatan metabolik manusia.
Dengan kata lain, mikrobioma usus memang penting—tetapi dalam fase awal perubahan gaya hidup, tubuh manusia mungkin lebih cepat beradaptasi daripada bakteri yang hidup di dalamnya.
Penulis:
Ika N. Kadariswantiningsih, dr., MMSc., Ph.D
Maulana A. Empitu, dr., MSc., Ph.D
Artikel dibuat berdasarkan sumber:
Ika N. Kadariswantiningsih et al. Journal of Physiology. https://doi.org/10.1113/JP290837





