Universitas Airlangga Official Website

Apakah Perusahaan dengan Polusi Tinggi memerlukan Lebih Banyak Pengungkapan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan?

Sumber: DBS Bank
Sumber: DBS Bank

Meskipun terdapat banyak penelitian yang menyelidiki hubungan antara pengungkapan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan kinerja perusahaan, literatur yang tersedia masih belum meyakinkan karena temuan yang sangat beragam. Untuk mengatasi kesenjangan yang signifikan ini, studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi kekuatan hubungan antara pengungkapan ESG dan kinerja perusahaan di antara perusahaan nonkeuangan di Indonesia di 10 industri, dengan mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kategori polusi tinggi dan rendah.

Studi ini mengkaji sampel 293 perusahaan selama periode 2017 hingga 2022. Selain itu, studi ini mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kategori polusi tinggi dan rendah sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan berbagai teknik analisis – termasuk analisis regresi termoderasi, analisis subkelompok, dan analisis lintas industri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan ESG berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. Namun, dampak positif ini hanya terlihat pada perusahaan dengan tingkat polusi tinggi (misalnya bahan baku, consumer cyclicals, consumer noncyclicals, energi, industri, transportasi, dan logistik), sedangkan dampaknya tidak signifikan pada perusahaan dengan tingkat polusi rendah (misalnya layanan kesehatan, infrastruktur, properti, dan real estat, serta teknologi). Hasil dari penelitian ini konsisten menggunakan berbagai metode statistik. Fenomena ini terjadi karena perusahaan dengan tingkat polusi tinggi menghadapi citra publik yang negatif dan tekanan substansial dari para pemangku kepentingan untuk memitigasi dampak sosial dan lingkungan mereka. Akibatnya, perusahaan-perusahaan ini membutuhkan aktivitas ESG yang lebih ekstensif untuk memulihkan citra dan meningkatkan kinerja mereka.

Penelitian ini memberikan implikasi teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini memperluas literatur akademis tentang ESG dengan menawarkan bukti empiris tentang dampak ESGD terhadap kinerja perusahaan. Meskipun penelitian sebelumnya telah menyelidiki secara ekstensif dampak ESGD terhadap kinerja perusahaan dengan beragam temuan, studi ini menjawab kesenjangan ini dengan melakukan analisis yang lebih mendalam di sepuluh industri yang berbeda. Selain itu, penelitian ini merupakan yang pertama mengklasifikasikan perusahaan berdasarkan tingkat polusi tinggi versus rendah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dampaknya.

Implikasi praktis dari studi ini adalah sebagai berikut: pertama, temuan ini dapat digunakan oleh perusahaan dengan tingkat polusi tinggi untuk mempertimbangkan peningkatan ESGD mereka guna meningkatkan kinerja perusahaan. Kedua, hasilnya signifikan bagi para pembuat kebijakan, karena menunjukkan bahwa investasi dalam ESG memengaruhi kinerja keuangan perusahaan di Indonesia. Hal ini khususnya relevan mengingat kurangnya regulasi yang ketat tentang ESGD di Indonesia saat ini.

Meskipun studi ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap literatur yang ada tentang ESGD perusahaan, studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, sampel yang digunakan dalam studi ini sangat kecil karena terbatasnya ESGD oleh perusahaan nonkeuangan di Indonesia. Kedua, studi ini hanya mempertimbangkan pelaporan ESG berdasarkan informasi yang disajikan dalam Laporan Keuangan Perusahaan (SR). Penerapan kriteria ini menghasilkan data observasional yang terbatas karena publikasi SR belum diwajibkan di Indonesia. Oleh karena itu, studi kami mungkin tidak sepenuhnya menangkap informasi ESG yang disediakan oleh sumber lain (misalnya situs web perusahaan, laporan tahunan), sehingga menambah keterbatasan terkait kualitas ESG dalam penelitian ini. Ketiga, dalam mengukur kinerja perusahaan, studi ini hanya menggunakan kinerja operasional dan kinerja keuangan. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan pengukuran kinerja lain seperti Tobin’s Q untuk mengukur kinerja pasar.