Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan penyakit yang umum diderita oleh masyarakat di dunia. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan yang besar, karena menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. GGK terdiri dari 5 stadium, mulai dari stadium 1 hingga stadium 5, dimana pembagiannya berdasarkan rentang fungsi ginjal. Jika pasien GGK masuk ke dalam stadium 5, maka pasien akan membutuhkan terapi untuk menggantikan fungsi ginjalnya.
Hingga saat ini, terapi penggantian fungsi ginjal bisa dilakukan dengan cara cuci darah atau cangkok ginjal. Dibandingkan dengan cuci darah, cangkok ginjal merupakan pilihan yang lebih baik karena lebih hemat, memberikan kualitas hidup yang lebih tinggi, dan meningkatkan usia hidup. Namun begitu, cangkok ginjal bukanlah tanpa masalah. Setelah cangkok ginjal, pasien masih dihadapkan dengan kemungkinan untuk mengalami penolakan oleh sistem imun. Sistem imun sendiri merupakan sistem yang kompleks, dan berbagai jenis sel imun di dalam tubuh dapat ikut berperan dalam penolakan ini. Salah satu sistem imun yang berperan penting dalam hal ini adalah sistem komplemen.
Sistem komplemen adalah salah satu sistem imun bawaan yang berperan dalam melindungi tubuh dari sel-sel asing dan juga menjadi jembatan antara sistem imun bawaan dengan sistem imun adaptif. Namun, dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan, aktivasi sistem komplemen ini dapat dicegah. Saat ini, satu-satunya obat untuk menghentikan aktivasi dari sistem komplemen yang sudah mendapatkan ijin edar adalah Eculizumab. Eculizumab ini telah terbukti untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh karena aktivasi sistem komplemen yang tidak pada tempatnya, seperti pada penyakit Atypical Hemolytic Uremic Syndrome atau Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria. Namun begitu, dalam hal pengobatan untuk penolakan cangkok ginjal, penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian obat ini tidak memberikan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian untuk mengetahui penyebabnya.
Pada penelitian ini, kami menggunakan sampel darah dan biopsi ginjal dari 50 pasien yang sudah menjalani prosedur cangkok ginjal. Sampel darah digunakan untuk mengecek kadar sistem komplemen dalam darah, dan biopsi ginjal digunakan untuk melihat deposit dari sistem komplemen di organ. Selain itu, kami juga melakukan eksperimen in-vitro menggunakan sel endotel ginjal untuk mereplikasi temuan dari pemeriksaan di pasien.
Kami menemukan bahwa tidak ada perbedaan kadar sistem komplemen dalam darah pasien yang mengalami penolakan dan tidak mengalami penolakan. Pada biopsi ginjal, kami menemukan bahwa deposit dari bagian dari sistem komplemen yang bisa dihambat oleh obat tersebut pada pasien yang mengalami penolakan oleh karena sistem imun ternyata tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan pasien yang tidak mengalami penolakan. Replikasi dengan eksprimen in-vitro menunjukkan bahwa bagian dari sistem komplemen yang dapat diblokir oleh obat yang ada saat ini ternyata tidak banyak teraktivasi.
Beradasarkan penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa obat yang beredar saat ini untuk mencegah aktivasi dari sistem komplemen tidak memberikan banyak manfaat dalam pengobatan pasien dengan penolakan cangkok ginjal karena sistem imun. Namun begitu, karena sistem komplemen memiliki banyak bagian lain yang bisa dihambat, dapat diharapkan bahwa di masa depan akan ada obat yang bisa menghambat aktivasi sistem komplemen di bagian yang tepat, sehingga bisa digunakan untuk mengobati pasien dengan kondisi ini.
Penulis: dr. Firas Farisi Alkaff
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada publikasi ilmiah kami di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35493506/
Tiller G, Lammerts RGM, Karijosemito JJ, Alkaff FF, et al (2022) Weak Expression of Terminal Complement in Active Antibody-Mediated Rejection of the Kidney. Front. Immunol. 13:845301. doi: 10.3389/fimmu.2022.845301





