UNAIR NEWS – Selama kurun waktu sepuluh tahun, terjadi transisi penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Jika pada tahun 2009 penyakit penyebab kematian tertinggi didominasi oleh penyakit menular, maka pada tahun 2019 justru penyakit tidak menular menempati peringkat teratas sebagai penyakit penyebab kematian.
Tren ini menunjukkan bahwa telah terjadi dinamika kesehatan masyarakat di era yang semakin modern. Demikian halnya yang disampaikan oleh Egi Abdul Wahid, direktur program CISDI pada Public Health Writing Class yang diadakan oleh APHSA BEM FKM UNAIR pada Sabtu (10/9/2022).
Egi memaparkan bahwa berdasarkan penelitian, terdapat faktor risiko tertentu yang menyebabkan transisi penyakit. “Kalau di tahun 2009 faktor penyebab utamanya adalah malnutrisi. Sementara, kalau di tahun 2019, yang paling utama yaitu peningkatan gula darah, rokok, dan risiko diabetes yang diakibatkan faktor konsumsi dan banyak hal,” ujarnya.
Sangat disayangkan bahwa masyarakat sering kali dianggap sebagai faktor penyebab utama munculnya masalah-masalah kesehatan. Padahal, menurut Egi, masalah-masalah tersebut tidak hanya berkutat pada masyarakat itu sendiri, tetapi juga disebabkan oleh faktor lain. Misalnya, akses dan kehadiran pemerintah sebagai pembentuk regulasi pendukung dalam sistem kesehatan nasional.
“Ini memang merupakan masalah-masalah kesehatan. Tapi kemudian kalau kita lihat, dari mana sih sumbernya? Kenapa konsumsi rokok meningkat? Kenapa konsumsi gula meningkat? Kenapa kita makin mudah menerapkan pola hidup yang tidak sehat? Kenapa kita harus selalu menyalahkan manusia? padahal manusia punya pilihan sendiri,” ungkap Egi.
Alumni Mahidol University of Thailand ini juga menegaskan bahwa isu-isu kesehatan dan penyakit di masyarakat tidak hanya tanggung jawab dari mereka yang bergelut di bidang kesehatan. Lantaran, pihak-pihak pemangku kebijakan di luar itu juga berperan besar. Ia memberi contoh berkaitan dengan tingginya tingkat kematian ibu dan anak.
Berdasarkan penelitian yang disampaikan, pernikahan dini merupakan salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian ibu dan anak. “Kematian ibu dan anak itu tinggi salah satunya karena pernikahan dini. Siapa yang dapat mengintervensi hal ini? Sekali lagi ini bukan orang kesehatan yang berperan, tetapi kementrian dan para pembuat regulasi yang berkaitan dengan hukum pernikahan ini,” tegasnya.
Terakhir, melalui kelas menulis isu-isu kesehatan masyarakat ini, Egi kembali menegaskan bahwa masalah-masalah kesehatan tidak hanya berada di level teknis saja, tetapi juga pada level struktural. Oleh karena itu, melalui dorongan berupa tulisan, kebijakan atau policy brief diharapkan dapat membantu meningkatkan awareness dari para pemangku kebijakan untuk menangani permasalahan dalam sistem kesehatan nasional.
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Khefti Al Mawalia





