Universitas Airlangga Official Website

Aplikasi Duckweed dan Kerang Air Tawar sebagai Biofilter Hidup untuk Menjaga Kualitas Air pada Pemeliharaan Juvenil Ikan Trout

Sumber: GDM Organik
Sumber: GDM Organik

Penerapan sistem resirkulasi pada kegiatan budidaya merupakan salah satu bentuk pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi buangan limbah serta mempertahankan kualitas air. Prinsip dari sistem RAS adalah memproduksi organisme secara maksimal dengan pemanfaatan air yang efisien, serta meminimalkan buangan limbah. Akan tetapi terdapat tantangan dalam penerapan sistem RAS berupa akumulasi nitrat yang cenderung meningkat seiring dengan berjalannya masa pemeliharaan yang dapat mempengaruhi kondisi dari organisme yang dibudidayakan. Hal ini disebabkan oleh minimnya pergantian air yang digunakan serta input pakan yang meningkat selama proses budidaya berlangsung. 

Penelitian ini dilakukan selama 56 hari dengan menggunakan sistem resirkulasi (RAS systems) dengan skala kecil. Pada penelitian ini menggunakan 2 buah kolam pemeliharaan ikan dengan volume ±250Liter; 1 buah bak filter mekanis (250Liter); 1 buah bak pengendapan (200Liter); 9 bak fiberglas untuk kerang air tawar dan duckweed berbentuk persegi panjang dan memiliki ukuran 200x50x10cm (100Liter). Tanaman duckweed dan kerang air tawar diletakkan dalam 1 kolam dan diberikan sekat. air disirkulasi dengan menggunkan pompa air (5Liter/ menit) dan dialirkan dari kolam 1 (ikan) menuju ke kolam 2 (filter); kemudian menuju ke kolam 3 (kolam perlakuan biofilter yang berisi kerang air tawar (Anodonta cygnea) dan tanaman duckweed (Lemna minor); dan kemudian kembali ke tank. Kecepatan arus pada kolam perlakuan biofilter adalah berkisar 1.7 L/ menit. Perlakuan yang diberikan berupa berat basah duckweed yang berbeda yaitu: T1 (berat basah 100 g dan luas tutupan area 20%), T2 (berat basah 200 g dan luas tutupan area 40%), dan T3 (berat basah 300 g dan luas tutupan  area 60%). Duckweed di setiap tangki perlakuan dilengkapi dengan 20 kerang air tawar (Anodonta cygnea) dengan berat tubuh rata-rata 56 ± 1,0 g. Parameter kualitas air fisik dan kimia diukur di tangki ikan dan semua kolam dalam sistem RAS. Ikan dari kolam pembesaran ditimbang setiap dua minggu. Biomassa duckweed diukur setiap minggu; kerang ditimbang dan diukur pada awal dan akhir penelitian. Juvenil ikan trout dipanen parsial setiap dua minggu untuk mempertahankan biomassa ikan yang konstan.

Penggunaan duckweed dengan bobot biomassa dan luas tutupan area yang berbeda yang ditambahkan dengan kerang air tawar sebagai biofilter hidup memiliki efek yang signifikan (P < 0,05) pada parameter kualitas air. Konsentrasi amonium (NH4), nitrit (NO2), dan nitrat (NO3) menurun selama penelitian. Selama periode penelitian, juvenil ikan trout mengalami pertumbuhan dengan SGR 2,62–2,72%/ gram dengan tingkat kelangsungan hidup 100%. Pemanenan sebagian selama periode pemeliharaan berdampak positif pada berat rata-rata pertumbuhan juvenil ikan trout dan biomassa duckweed. Kinerja pertumbuhan duckweed terbaik ditemukan pada perlakuan T1 (luas tutupan area 20% dan berat basah 100 g) dengan produktivitas 9,4 (g/ m2/ hari).

Penulis: Muhammad Hanif Azhar, S.Pi., M.Si.

Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/wer.70046

(Azhar and MemiÅŸ, 2025).

Azhar, M. H., & MemiÅŸ, D. (2025). The application of duckweed (Lemna minor) and freshwater mussels (Anodonta cygnea) as living biofilters integrating with a filtration system to maintain water quality in juvenile trout (Oncorhynchus mykiss) rearing using the small scale RAS system. Water Environment Research, 97(2), e70046. https://doi.org/10.1002/wer.70046.