Universitas Airlangga Official Website

Arsitektur Indis dan Perubahan Sejarah Kota Magelang

Foto by Pemkot Magelang

Kontak antara orang-orang Eropa (Belanda) dengan pribumi, khususnya masyarakat Jawa di Kota Magelang, Jawa Tengah tidak semata-mata menghasilkan pandangan penjajah dan yang terjajah. Dalam perspektif budaya, tinggalan atau jejak kehadiran Eropa di Kota Magelang bisa dibaca dalam konteks arsitektur Indis. Arsitektur Indis lahir dari hasil adaptasi antara arsitektur Eropa dengan arsitektur lokal (Jawa) yang mewujud dalam ciri khas bangunan yang ada di Kota Magelang.  Bagaimana konsep arsitektur Indis ini mewarnai perubahan sejarah Kota Magelang? Hasil penelitian Adyt Alkausar dan La Ode Rabani menunjukkan bahwa dalam rentang periode 1900 sampai 1942, Kota Magelang ikut diwarnai oleh arsitektur berciri Eropa yang bercampur dengan arsitektur lokal Jawa pada beragam media seperti rumah sakit, sekolah, bangunan keagamaan, bangunan militer, fasilitas umum, dan sejenisnya.

Masuknya pengaruh arsitektur Indis di Kota Magelang tidak terlepas dari sejarah kota itu yang pernah terintegrasi dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Integrasi kolonial dengan masyarakat Magelang terjalin melalui jalur kolonialisme. Kolonialisme membutuhkan Magelang dalam konteks perluasan ekspansi ekonomi. Sumber daya ekonomi yang dimiliki kota Magelang seperti tanah yang subur karena dikelilingi oleh pegunungan, ketersediaan air yang menjamin kesuburan tanaman, dan suhu udara yang dingin menjadikan kawasan ini mendekati iklim di Eropa, namun lebih subur dari Eropa karena posisi geografisnya yang berada di daerah tropis dengan intensitas hujan yang tinggi. 

Kondisi demikian itu menguntungkan secara ekonomi bagi Magelang, namun juga harus menerima konsekuensi yakni menjadi wilayah yang mendapat ekspansi ekonomi dan pada saat yang sama menerima pengaruh arsitektur Eropa bercampur dengan budaya lokal, yang dalam kajian ini dinamakan arsitektur Indis. Warna arsitektur Indis ini bagi Kota Magelang menjadi tanda kalau kota itu pernah bersama-sama dalam sejarahnya menjadi bagian tak terpisahkan dari pengaruh arsitektur Eropa pada saat kota itu dihuni oleh orang-orang Eropa. Tanda itu menyatu dalam bangunan Rumah Sakit, Fasilitas Pendidikan, Bangunan Militer, Sarana Air Minum (Tandon), dan bentuk rumah para pejabat Eropa yang ada di Kota Magelang pada periode 1900-1942. Arsitektur Indis ini menjadi bagian dari perubahan sejarah Kota Magelang ke arah yang lebih maju dari kota-kota lain yang tidak mendapat pengaruh yang sama. Kemajuan Kota Magelang tampak pada sarana, tata kota, dan organisasi ruang kota yang menyerupai desain kota Eropa. 

Ciri umum Kota Magelang tidak jauh berbeda dengan kota-kota di Eropa, yakni tata kota yang rapi, pengelompokan pemukiman yang tertata baik, saluran air kota yang rapi, dan adanya ruang terbuka hijau yang menjadi taman kota (garden city). Ciri itu dengan mudah dapat ditemukan di Kota Magelang. Dalam konteks itu, Kemajuan kota Magelang dihasilkan dari integrasi dan pertemuan unsur-unsur kebudayaan Eropa dan lokal (Jawa) yang berkembang di Kota Magelang. Kemajuan secara arsitektural bagi kota Magelang berarti kemajuan secara budaya dan ekonomi, karena kehadiran Belanda juga karena faktor ekonomi. Intensitas aktivitas ekonomi di Magelang mendorong tumbuhnya para pedagang dan perluasan ekonomi kolonial di Magelang. Artinya, hubungan Magelang dengan kolonial adalah relasi produktif, karena mampu mengangkut dan mengenalkan produk/sumber daya dari Magelang ke pasar Eropa.

Pada titik itulah, tulisan ini melihat bahwa Arsitektur Indis mempengaruhi perubahan sejarah Kota Magelang melalui integrasi ekonomi kolonial dengan sumberdaya di Kota Magelang. Hubungan yang intensif dan keberadaan orang-orang Eropa di Kota Magelang memberi warna pada perubahan sejarah kota Magelang sejak tahun 1900 yang ditandai dengan meningkatnya  upaya perluasan ekonomi di Hindia Belanda, termasuk ke Magelang hingga tahun 1942. Dalam rentang periode itu, politik etis yang menjadi dasar dari perluasan ekonomi di tiga bidang, pendidikan, irigasi, dan pemindahan penduduk ke wilayah produktif secara ekonomi (migrasi) benar-benar ikut mewarnai perubahan sejarah Kota Magelang.  

Penulis: Adyt Alkautsar dan La Ode Rabani

Link Jurnal: https://journal.ugm.ac.id/v3/sasdaya/article/view/5248