Universitas Airlangga Official Website

Asam Calopeekelioic A dan B dari Tanaman Bintangur Endemik Papua Aktif sebagai Antimalaria

Foto by Ciri-ciripohon

Bintangur merupakan tanaman endemik Indonesia Timur tepatnya di wilayah Papua. Bintangur merupakan tumbuhan tinggi yang banyak tumbuh di wilayah Kalimantan, Batam, Bangka Belitung, Papua. Tanaman ini dikenal dengan nama yang berbeda pada setiap daerah. Beberapa daerah mengenal tanaman bintangur dengan nama mentangor, aci, nyamplung, betur. Bintangur banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional. Sebagian masyarakat papua menggunakan bintangur sebagai obat HiV , kanker dan baru-baru ini berkhasiat dapat menyembuhkan warga yang terkena malaria. Bahkan salah satu jenis bintangur, yaitu Calophyllum peekelii terbukti mengandung senyawa yang aktif sebagai anti malaria.  Tanaman bintangur termasuk dalam genus besar Calophyllum dari keluarga Guttiferae. 

Studi fitokimia beberapa ahli sebelumnya terhadap Calophyllum, menunjukkan bahwa bintangor mengandung senyawa asam kromanoat, benzofuran, santon, fenilkumarin yang merupakan senyawa aktif. Kulit batang kayu dari tanaman bintangor banyak digunakan sebagai salah satu bahan ramuan obat Cina untuk obat kanker.

Penelitian ilmiah terhadap bintangor dari Kalimantan dari jenis Calophyllum peekelii dilakukan oleh Mulyadi Tanjung dan Tim Riset Kimia Bahan Alam Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, berhasil menemukan senyawa aktif baru Asam calopeekelioic A dan B. Senyawa baru tersebut diujikan pada Plasmodium falciparum  strain 3D7 dan menunjukkan kekuatan yang sangat aktif. Berikut jalannya senyawa aktif Calophyllum peekelii dalam menghambat Plasmodium falciparum  dan menjadi salah satu kandidat obat antimalaria.

Ketiga senyawa tersebut belum pernah ditemukan sebelumnya, dan pertama kalinya ditemukan oleh Mulyadi Tanjung dan tim peneliti dari Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Hasil penelitian memberikan prospek yang sangat bagus bagi dunia kesehatan dalam upaya penemuan obat antimalaria yang berbasis pada bahan alam yang lebih aman. Penemuan senyawa calopeekelioic A dan B ini telah dipublikasikan pada jurnal Natural Product Research Tahun 2022.

Bagian tanaman yang diteliti adalah kulit batang, bagian yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan obat tradisonal. Kulit batang dipeoleh dari Desa Werekopa, Kecamatan Fakfak Selatan, Kabupaten Fakfak, Papua. Selain itu bagian kulit batang merupakan bagian tanaman yang banyak tersimpan metabolit sekunder daripada bagian lain. Identifikasi tanaman dilakukan oleh Ismail Rachman, ahli botani dari Herbarium Bogoriensis, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor.

Pada penelitian selanjutnya akan difokuskan pada eksplorasi Calophyllum lainnya dari berbagai wilayah Indonesia, sehingga dapat dipetakan jenis-jenis Calophyllum Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sumber obat malaria.

Penulis: Mulyadi Tanjung

Link jurnal: Dr. Mulyadi Tanjung, Drs., M.S.