Infeksi HIV masih menjadi masalah besar bagi kesehatan dunia, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah seperti Ethiopia. Dimana banyak anak terinfeksi dan meninggal akibat AIDS. Meskipun terapi antiretroviral (ARV) telah terbukti secara signifikan mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian ODHIV. Kemudahan ODHIV mengakses ARV sangat penting. Ethiopia telah memperluas akses ARV sejak 2005, meningkatkan jumlah fasilitas dan pasien yang menerima pengobatan, termasuk anak-anak. Meskipun pengobatan HIV sudah berkembang pesat dan banyak anak telah menerima terapi ARV, ternyata angka kematian di kalangan anak-anak dengan HIV di Ethiopia masih tergolong tinggi.
Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh mahasiswa S3 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang berasal dari Ethiopia tentang kelangsungan hidup anak-anak dengan HIV di Ethiopia. Penelitian ini dilakukan di 13 fasilitas kesehatan di Ethiopia. Berdasarkan data yang diperoleh dari 554 anak yang memulai pengobatan HIV antara tahun 2007 hingga 2019 menunjukkan hasil yang cukup menarik. Dalam jangka waktu hampir 12 tahun, sekitar 1 dari 4 anak (25%) meninggal dunia, meskipun mereka sudah mendapatkan pengobatan. Yang lebih memprihatinkan, tingkat kelangsungan hidup anak-anak ini mulai menurun drastis setelah tahun ke-6 pengobatan. Pada tahun ke-6, sebagian besar anak masih bertahan hidup sebesar 96%, tetapi pada tahun ke-12, hanya sekitar 18% saja yang masih bertahan dan masih tercatat mendapatkan pengobatan. Selain itu, hampir 24% anak berhenti kontrol dan tidak bisa dilacak lagi, yang disebut sebagai “hilang dari pengawasan”.
Dari hasil penelitian ini, beberapa faktor yang menjadi resiko kematian semakin tinggi pada anak-anak dengan HIV di Ethiopia, antara lain:
- Anak perempuan lebih berisiko meninggal dibanding anak laki-laki
- Anak-anak yang tidak rutin minum obat
- Anak dengan sistem kekebalan tubuh lemah (CD4 sangat rendah)
- Anak yang memiliki kadar hemoglobin (sel darah merah) rendah
Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun obat HIV sudah tersedia, pengawasan dan pendampingan jangka panjang terhadap anak-anak sangat penting agar mereka bisa bertahan hidup. Terutama bagi anak-anak yang kondisi kesehatannya sudah lemah sejak awal. Studi ini menyoroti bahwa resiko kematian jangka panjang yang signifikan di antara anak-anak HIV-positif yang menjalani ARV di Ethiopia, dengan penurunan tajam dalam kelangsungan hidup setelah 6 tahun pengobatan. Faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kematian yang lebih tinggi termasuk kepatuhan yang buruk, jumlah CD4 awal yang rendah, jenis kelamin perempuan dan tempat tinggal di pedesaan. Meskipun ada kemajuan dalam diagnosis dini dan akses ARV, retensi dalam perawatan tetap menjadi tantangan di antara anak-anak yang menjalani ARV di Ethiopia. Temuan ini menggarisbawahi perlunya intervensi yang ditargetkan untuk meningkatkan kepatuhan dan mengatasi kendala terhadap perawatan jangka panjang. Obat saja tidak cukup, dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan sistem layanan kesehatan yang kuat sangat diperlukan agar anak-anak dengan HIV bisa tumbuh dan menjalani hidup yang sehat.
Penulis: Dr. Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Getaneh, Y et.al. (2025). Exploring survival rates in HIV-infected Ethiopian children receiving HAART: a retrospective cohort study. BMJ Paediatrics Open. 2025 January 16; 9:1. doi: 10.1136/bmjpo-2024-003022. Available online: Exploring survival rates in HIV-infected Ethiopian children receiving HAART: a retrospective cohort study | BMJ Paediatrics Open





