Universitas Airlangga Official Website

Bakteri Vibrio Parahaemolyticus pada Lumba-Lumba Hidung Botol

Bakteri Vibrio Parahaemolyticus pada Lumba-Lumba Hidung Botol
Sumber: Tribun Jogja

Lumba-lumba hidung botol adalah salah satu hewan air salah satu satwa air yang keberadaannya dilindungi oleh hukum di Indonesia melalui PP Nomor: 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 79/KEPMEN-KP/2018 tentang Nomor: 79/KEPMEN-KP/2018 tentang tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut. Konservasi Mamalia Laut. Salah satu undang-undang perlindungan ini mengatur tentang informasi tentang penyakit mamalia laut. Agen penyakit pada mamalia laut dapat berupa bakteri, protozoa, cacing, dan virus. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri sering ditemukan pada hewan yang hidup di kolom air, baik yang dibudidayakan maupun hewan air liar. Deteksi biologi molekuler dapat menentukan keberadaan penyakit pada inang.

Namun, keberadaan isolat bakteri patogen penting untuk karakterisasi yang lebih rinci dan identifikasi patogen penyakit. Konsorsium bakteri di perairan laut sangat kaya dan beragam, di mana ada potensi untuk bakteri sebagai pengendali penyakit atau sebaliknya patogen. Dalam budidaya ikan, beberapa bakteri diketahui dapat menjadi patogen bagi inangnya. Salah satu bakteri pathogen yang sering dikaitkan dengan penyakit adalah bakteri dari jenis Vibrio, yang merupakan flora normal dalam air laut dan, dalam kondisi tertentu, menyebabkan serangan penyakit pada budidaya ikan dan udang. Informasi tentang penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen yang menyerang lumba-lumba sebagai hewan yang dilindungi masih perlu ditingkatkan. Vibrio pada mamalia air dari spesies Vibrio vulnificus ditemukan ditemukan menyebabkan septikemia dan kematian pada anjing laut tutul. Selain itu, sebagai organisme dari kelas yang sama kelas yang sama, dikhawatirkan patogen pada mamalia juga berbahaya bagi manusia. Tidak ada laporan tentang penyakit pada lumba-lumba yang disebabkan oleh bakteri vibrio, seperti halnya halnya dengan ikan dan udang. Namun, hal itu tidak tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri vibrio dapat menginfeksi lumba-lumba dan menyebabkan penyakit yang berbeda dengan ikan dan udang. Vibrio parahaemolyticus juga diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia yang dapat disebarkan melalui makanan laut yang yang dikonsumsi manusia. Meskipun mamalia air adalah hewan yang dilindungi dan tidak boleh dikonsumsi, keberadaan bakteri zoonosis merupakan informasi yang sangat penting untuk meminimalisir risiko penyebaran penyakit melalui air. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis-jenis bakteri yang dapat menjadi pathogen bagi mamalia air. Oleh karena itu, penelitian ini ini dilakukan untuk mendapatkan bukti keberadaan bakteri patogen di dalam tubuh mamalia air yang sehat dan mamalia air sehat yang tidak menunjukkan gejala penyakit baik karena adanya bakteri Vibrio maupun bakteri patogen lainnya sehingga dapat digunakan sebagai peringatan dini terhadap kemungkinan penularan penyakit dari mamalia air ke manusia.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa bakteri Vibrio ditemukan pada mamalia laut tetapi belum ditemukan sebagai agen penyebab penyakit. Bakteri Vibrio ditemukan bersifat hemolisis dan resisten terhadap antibiotik tertentu. Hal ini dapat menjadi sistem peringatan dini yang Anda harus berhati-hati saat menangani lumba-lumba karena adanya bakteri V. parahaemolytic, yang bersifat zoonosis dan berpotensi berbahaya bagi manusia.

Penulis: Dr. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T.

Link: https://jurnal.ipb.ac.id/index.php/hayati/article/view/52597

Baca juga: Komposisi Microbiome pada Lumba-lumba Tursiops aduncus