UNAIR NEWS – Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menggelar seminar awam bertajuk Ramadan Berdampak pada Sabtu (14/2/2026) di Hall Wikrama Lt. 7, Grha Trimed, RSUA. Salah satu perhatian utama dalam forum tersebut adalah penyintas diabetes yang ingin tetap menjalankan ibadah puasa tanpa memicu komplikasi. Melalui pemaparan ilmiah, peserta diajak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat gula darah berubah selama Ramadan.
Dalam sesi materinya, Dr Hermina Novida dr SpPD-KEMD FINASIM, konsultan endokrin metabolik diabetes, menjelaskan mekanisme perubahan metabolisme pada penyintas diabetes saat menjalani puasa. Ia memaparkan bahwa puasa berarti menahan makan dan minum sekitar 14 jam selama 30 hari, sehingga pola makan, asupan cairan, hingga jadwal obat dan insulin ikut berubah. Perubahan tersebut, menurutnya, dapat berdampak signifikan pada kestabilan gula darah.
“Puasa itu bukan sekadar tidak makan. Pada pasien diabetes, perubahan jam makan dan insulin sangat berpengaruh. Salah sedikit atur obat bisa masuk rumah sakit karena gulanya tidak terkontrol,” imbuhnya.
Perubahan Sumber Energi Saat Puasa
Ia menyebut bahwa tubuh menyimpan cadangan gula di hati, lemak, dan otot. Saat puasa pada individu dengan gula darah terkontrol, tubuh akan mengambil energi dari cadangan hati. Namun, kondisi berbeda terjadi bila gula darah tinggi. “Kalau gula darahnya di atas 250 mg/dL, cadangan dari hati tidak cukup. Tubuh akan ambil dari lemak dan otot. Pembakaran lemak itu menghasilkan keton. Kalau ketonnya berlebihan, bisa terjadi ketoasidosis, dan itu berbahaya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat menyebabkan pasien tidak sadar dan harus dirawat intensif. Karena itu, tidak semua diabetisi aman berpuasa. Ia menyebut beberapa syarat, antara lain gula darah terkontrol, tidak menggunakan insulin lebih dari dua kali sehari, fungsi hati dan ginjal baik, tidak ada gangguan jantung atau stroke berat, serta tidak sedang mengalami infeksi akut.
“Kalau gulanya masih 400-500, jangan dipaksakan. Keselamatan tetap nomor satu,” tegasnya. Sebaliknya, pasien dengan DM tipe 1 yang tidak stabil, riwayat ketoasidosis, atau pernah mengalami hipoglikemia berat perlu pertimbangan ketat sebelum memutuskan berpuasa.
Kenali Risiko Hipoglikemia
Selain gula darah tinggi, Hermina juga mengingatkan risiko hipoglikemia, terutama menjelang sore hari. Ia meminta peserta mengenali gejala sejak awal agar tidak terlambat bertindak. “Kalau mulai gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar, lidah atau bibir kesemutan, pandangan kabur, sampai bicara tidak jelas, segera cek gula darah. Kalau di bawah 60 mg/dL, harus segera berbuka, meskipun tinggal setengah jam lagi,” ujarnya.
Pada akhir, ia juga menekankan pentingnya mencatat nama obat yang dikonsumsi dan berkonsultasi sebelum Ramadan untuk penyesuaian dosis. Pemeriksaan gula darah sebelum sahur, dua jam setelah sahur, sebelum berbuka, dan dua jam setelah berbuka tetap dianjurkan. “Cek gula darah tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan itu makan dan minum. Jadi jangan takut periksa, supaya kita tahu kondisi tubuh sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





