Universitas Airlangga Official Website

Bayang-Bayang Anemia pada Wanita Usia Reproduktif di Lokus Stunting

Implementasi Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Membangun Model Stunting pada Balita
Ilustrasi stunting (Foto: Orami)

Survei Kesehatan Indonesia di tahun 2023 menunjukkan prevalensi stunting pada anak 0-59 bulan di Indonesia yang termasuk dalam kategori tinggi. Anak dengan stunting akan lebih berisiko untuk terjangkit penyakit menular dan tidak menular, serta dapat mengalami hambatan perkembangan kognitif dan fisik. Hal ini menjadikan stunting sebagai salah satu isu strategis nasional yang menjadi fokus Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada anak adalah status gizi ibu. Wanita dengan indeks massa tubuh (IMT) yang rendah dan adanya kondisi anemia lebih berisiko untuk melahirkan anak dengan status gizi tidak optimal dan lebih berisiko stunting. Anemia pada wanita akan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin, menyebabkan berat badan lahir rendah, dan lebih berisiko melahirkan bayi yang prematur. Anemia pada ibu menyusui juga menurunkan transfer zat besi melalui air susu ibu (ASI), sehingga anak cenderung berisiko anemia dan mengalami stunting. Pada tahun 2023, 27,7% wanita hamil di Indonesia dilaporkan mengalami anemia.

Sebagai upaya pengentasan stunting, kebijakan dan program intervensi perlu mencakup daerah lokus stunting. Pemenuhan gizi anak dan wanita, utamanya wanita hamil dan menyusui, perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi stunting. Intervensi spesifik, termasuk untuk wanita dengan anemia, juga perlu dilakukan. Karenanya, identifikasi wanita usia reproduktif dengan anemia perlu dilakukan, utamanya yang tinggal di daerah lokus stunting, sehingga intervensi yang sesuai dapat diberikan.

Berdasarkan skrining yang dilakukan oleh Megasari dkk bersamaan dengan rangkaian program pengabdian kepada masyarakat di salah satu desa lokus stunting di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, teridentifikasi adanya 58,3% wanita usia reproduktif (18-49 tahun) yang terindikasi anemia. Skrining anemia dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (<12 g/dL) dan kadar hematokrit (<36%). Akan tetapi, tidak ditemukan keterkaitan antara IMT dan lingkar lengan atas (LiLA) wanita dengan kondisi anemia. Hal ini mengindikasikan pentingnya skrining anemia pada semua wanita usia reproduktif, khususnya di daerah lokus stunting. Hasil skrining dapat menjadi landasan pemberian terapi atau intervensi yang sesuai. Dengan mengatasi ataupun mencegah kondisi anemia pada wanita usia reproduktif, diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengentasan masalah stunting anak di Indonesia.

Penulis: Dr. Ni Luh Ayu Megasari, S.Gz., M.Ked.Trop.

Artikel penuh dapat dilihat pada laman: https://journalwjarr.com/content/anemia-among-women-reproductive-age-residing-stunting-locus-village-banjar-district