Universitas Airlangga Official Website

BBK 7 International di Shizuoka University Perkuat Disaster Preparedness dan Dukung Pencapaian SDGs

Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan presentasi akhir hasil pengolahan fieldwork di Shizuoka University (Foto: Dok. Istimewa)

UNAIR NEWS – Pada hari terakhir kegiatan BBK Internasional Shizuoka, Jumat, 5 Februari 2026, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan presentasi akhir hasil pengolahan fieldwork di Shizuoka University. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian fieldwork yang telah berlangsung dua hari sebelumnya, sekaligus menjadi penutup kegiatan BBK Internasional di Jepang. Presentasi akhir ini berfokus pada isu disaster preparedness, penguatan community resilience, serta peran masyarakat. Seluruh hasil dari temuan lapangan dipresentasikan di hadapan mahasiswa, dosen pendamping, serta mentor dari Delve Education.

Tema pertama yang diangkat adalah “Survey of Pet Owners’ Behaviour of Disaster Preparedness in Shizuoka Prefecture.” Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan pemilik hewan peliharaan dalam melindungi hewan mereka saat terjadi bencana. Survei dilakukan di wilayah Yaizu dan Fuji dengan total 55 responden. Hasil menunjukkan bahwa 48,2% responden belum mengetahui prosedur formal evakuasi hewan peliharaan ketika bencana terjadi. Temuan ini mengindikasikan masih adanya kesenjangan pengetahuan terkait pet evacuation. Namun demikian, 53,6% responden telah menyiapkan kebutuhan darurat bagi hewan peliharaan mereka, seperti makanan darurat, kandang sementara, serta pelatihan dasar untuk hewan peliharaan, yang menunjukkan adanya kesadaran awal terhadap kesiapsiagaan bencana.

Tema kedua membahas household emergency kits sebagai bentuk kesiapsiagaan di tingkat rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden telah memiliki emergency kit di rumah, terutama yang berisi makanan dan minuman. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Shizuoka memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya persiapan menghadapi bencana, serta memahami peran emergency kit sebagai langkah preventif untuk meminimalkan dampak bencana.

Sesi presentasi dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung secara aktif. Salah satu pertanyaan menarik diajukan oleh Kondo-sensei, yang menyoroti kondisi Kota Yaizu dengan populasi menurun, mendominasi penduduk lansia, serta berkurangnya pendapatan pajak daerah. Mahasiswa UNAIR kemudian diminta untuk menjelaskan bagaimana strategi disaster prevention dapat tetap efektif dan menjangkau masyarakat dengan karakteristik demografis tersebut.

Menanggapi pertanyaan tersebut, mahasiswa UNAIR mengusulkan beberapa strategi, antara lain mempertahankan dan mengoptimalkan fasilitas evakuasi serta bangunan kesiapsiagaan bencana yang telah tersedia di kota Yaizu. Selain itu, mahasiswa menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas, seperti pembentukan komunitas pemuda yang berperan aktif dalam mendampingi dan memantau lansia secara rutin.

Secara keseluruhan, mahasiswa UNAIR mempresentasikan hasil dengan baik dan memperoleh umpan balik positif dari para mentor. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan awareness berbasis penelitian, tetapi juga mendukung pencapaian SDGs 4 (Quality Education). Temuan dan ide inovatif yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi untuk penerapan upaya kesiapsiagaan bencana di Indonesia.

Penulis: Shifa Maharani/Mahasiswa BBK 7 Internasional di Jepang