Universitas Airlangga Official Website

BEM FKG Dorong Inklusivitas Lewat Pelatihan Bahasa Isyarat

Pembukaan acara Pelatihan Bahasa Isyarat oleh MC (Foto : dokumentasi pribadi)
Pembukaan acara Pelatihan Bahasa Isyarat oleh MC (Foto : dokumentasi pribadi)

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pelatihan bahasa isyarat. Berlangsung pada Sabtu (13/9/2025), di Ruang Kuliah Bersama (RKB) Kampus Dharmahusada-A, kegiatan tersebut terselenggara dalam upaya menciptakan lingkungan inklusif. Selain itu, juga untuk mendorong kontribusi nyata mahasiswa pada masyarakat khususnya teman tuli.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Tim Bisindo dan Aksesibilitas Surabaya (TIBA). Antara lain Ika Irawan yang kerap disapa Wawan dan Alya. Sebelum memulai materi, Wawan menekankan pentingnya memahami dunia disabilitas rungu sebelum mulai mempelajari bahasa isyarat. “Sebelum belajar bahasa isyarat, alangkah baiknya mengenal dunia tuli terlebih dahulu,” ujarnya. 

Wawan menegaskan bahwa kata ‘tuli’ bukanlah istilah kasar. “Ada tiga istilah, yaitu tunarungu, tuli, dan disabilitas rungu. Namun sebagian orang lebih nyaman dipanggil tuli atau disabilitas rungu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wawan memaparkan penyebab tuli yang beragam, mulai dari faktor genetik, bawaan lahir, usia lanjut, hingga kebiasaan mendengarkan suara keras, kecelakaan, maupun penyakit tertentu. Menurutnya, setiap individu memiliki tingkat ketulian berbeda. 

Wawan saat memandu peserta Pelatihan Bahasa Isyarat untuk praktek langsung (Foto : dokumentasi pribadi)
Wawan saat memandu peserta Pelatihan Bahasa Isyarat untuk praktek langsung (Foto : dokumentasi pribadi)

Wawan juga menekankan Bisindo sebagai bahasa alami teman tuli. “Bisindo diekspresikan dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Ini bahasa utama mereka, bukan verbal,” terangnya. Ia menambahkan manfaat Bisindo mulai dari komunikasi jarak jauh, tetap bisa berbincang meski terhalang kaca, hingga saat makan. Namun, beberapa hambatannya juga masih ada. Seperti kurangnya dukungan visual, minimnya keterlibatan teman tuli dalam acara penting, serta absennya juru bahasa isyarat masih jadi tantangan,

Kegiatan tersebut juga berfokus pada praktik Bisindo. Terutama dalam anamnesis serta komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan gigi dan mulut. Melalui sesi ini, peserta berkesempatan langsung mempraktekkan bahasa isyarat agar mampu berinteraksi lebih inklusif dengan teman tuli dalam konteks medis maupun kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya pelatihan ini, BEM FKG UNAIR berharap mahasiswa dapat memahami lebih jauh mengenai dunia tuli sekaligus berperan aktif menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia Rohmawati