Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak bencana yang terjadi di desa Sumurup, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia. Metode: Analisis dampak deskriptif digunakan sebagai metode penelitian untuk menganalisis peristiwa bencana dalam mengkaji faktor risiko bencana dan sebagai dasar untuk desain tahap awal untuk mengurangi dampak bencana.
Hampir setiap tahun di musim hujan, Desa Sumurup selalu terjadi longsor. Saat intensitas hujan tinggi, jalan penghubung Kabupaten Trenggalek – Kabupaten Tulungagung yang melewati jalan di Desa Sumurup tertutup longsor. Longsor ini disebabkan oleh tebing-tebing terjal tepat di samping jalan yang tidak mampu menahan debit air saat hujan. Akibatnya, hampir 2 hari aktivitas warga terhenti karena jalan yang hanya bisa dilalui roda 2 secara bergantian. Tebing setinggi 15 meter di Jalan Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan Trenggalek, ambruk dan menutup jalan. Material longsor berupa tanah becek dan bebatuan menutupi akses jalan transportasi warga. Selain itu, longsor juga menyebabkan tiang-tiang kabel listrik yang berada di pinggir jalan hampir ambruk dan menutup jalan.
Informasi dari warga korban bencana menjelaskan bahwa 38 rumah dan satu mushola tersebut ditinggalkan pemiliknya karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. Warga terdampak pindah menyebar ke beberapa RT atau Dusun lain yang masih aman. Hal senada disampaikan Kepala Desa Sumurup bahwa seringkali pada musim hujan terdapat akses Jalan-jalan utama Desa rawan longsor. Hal ini terjadi karena di sepanjang jalan utama Desa masih banyak terdapat tebing-tebing yang sangat curam dengan tanah yang sangat mudah terurai jika terkena debit air yang tinggi. Dan tidak ada satupun tanaman di tebing yang mampu menyimpan banyak debit air dan dapat menahan tanah. Hal ini terjadi karena sebagian besar wilayah ditumbuhi pohon pinus yang tidak bisa menyerap air dengan sempurna. Tentu situasi bencana yang serius dapat dihindari dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan iklim, termasuk pengamatan kondisi fisik lahan dan curah hujan sehingga dapat terwujud peningkatan kesadaran masyarakat pada musim hujan dengan intensitas tinggi.
Bencana longsor di Desa Sumurup juga terjadi karena pola penempatan rumah di bawah tebing yang sangat curam. Seperti pada bencana yang menimpa dua rumah. Satu rumah tertimbun tanah dan satu rumah nyaris roboh akibat longsor. Awalnya mereka tidak menyadari akan terjadi bencana tanah longsor, namun tiba-tiba saat berada di luar rumah, warga mendengar suara keras seperti ada yang jatuh dan menimbun Rumah mereka. Untungnya, tidak ada korban jiwa pada saat kejadian, namun hampir seluruh perabotan di rumah tersebut rata dengan tanah dan tidak bisa diselamatkan.
Selain longsor, Desa Sumurup juga rawan terjadi gerakan tanah. Hal ini dikarenakan kurangnya tutupan lahan dan tanah yang tipis membuat tebing dan perbukitan di sekitar Desa Sumurup rawan mengalami erosi tanah dan menyebabkan terjadinya longsor dan longsor.
Situasi dilematis yang dirasakan masyarakat Desa Sumurup tidak lagi menjadi pilihan. Artinya mereka awalnya ingin meninggalkan lokasi tersebut, namun karena sejak leluhur warga tinggal di lokasi tersebut, selain faktor aset kepemilikan tanah dan rumah yang sudah berdiri di kawasan seperti sekarang ini, mereka dihadapkan pada keterikatan historis dengan daerah tempat tinggal mereka. Walaupun banyak masalah kerawanan wilayahnya baik dari tanah longsor yang warga hadapi, mereka tetap memilih tinggal di daerah rawan bencana tersebut. Solusi mengatasi kondisi ini adalah kesiapsiagaan Mitigasi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana perlu ditingkatkan baik untuk mencegah maupun mengatasi dampak bencana. Pengetahuan dan kapasitas masyarakat tentang penanggulangan bencana perlu menjadi perhatian dan bekal untuk tetap tinggal di daerah rawan bencana.
Penulis: Rizkyah Isnaini, Moses Glorino Rumambo Pandin, Christrijogo Sumartono Waloejo, Dina Sunyowati





