Universitas Airlangga Official Website

Berbekal Riset Literatur, Dea Buktikan Inovasi Teknologi Tak Pandang Latar Belakang Studi

Pengumuman Juara 1 dalam PINUS 3.0 kategori mahasiswa yang diraih oleh Dea Vania Natalie (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Melalui sentuhan teknologi Internet of Things (IoT), Dea Vania Natalie membuktikan bahwa inovasi berbasis lingkungan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani. Mahasiswa Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) ini merancang SI-PUNGKAS, sebuah sistem reaktor yang mampu mengolah zat aktif dalam puntung rokok menjadi pestisida cair yang ampuh dan murah. Prestasi ini sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai peraih Juara I PINUS 3.0 kategori mahasiswa pada Sabtu (24/1/2026).

Dea menjelaskan bahwa SI-PUNGKAS dirancang untuk menjawab keresahan masyarakat terhadap limbah puntung rokok yang seringkali terabaikan. Nama “SI-PUNGKAS” sendiri memiliki filosofi untuk memungkas atau mengakhiri masalah limbah tersebut sekaligus memberikan solusi ramah lingkungan bagi sektor pertanian.

Pemilihan limbah puntung rokok sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Melalui riset literatur yang mendalam, Dea menemukan fakta bahwa puntung rokok mengandung kadar nikotin tinggi yang bersifat neurotoksin bagi hama seperti kutu daun, ulat, wereng, dan trips.

Dea Vania Natalie, pencetus SI-PUNGKAS sekaligus peraih juara 1 dalam PINUS 3.0 kategori mahasiswa (Foto: Istimewa)

“Daripada hanya mengotori lingkungan, lebih baik kita manfaatkan nikotin tersebut sebagai biopestisida cair. Untuk mempermudah prosesnya, inovasi ini dilengkapi teknologi IoT yang berfungsi sebagai ‘mata’ pemantau suhu dan progres pengolahan alat secara real-time melalui aplikasi di smartphone,” jelas Dea. Dengan integrasi IoT, pengguna tidak perlu memantau alat selama 24 jam secara manual karena semua data langsung terhubung ke ponsel.

Hal yang paling menarik dari pencapaian ini adalah latar belakang pendidikan Dea yang berasal dari rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora (Soshum). Meski tidak memiliki basis pendidikan teknik, ia membuktikan bahwa riset literatur yang metodologis mampu menjembatani kerumitan teknologi.

Ia mengaku bahwa proses risetnya banyak dibantu oleh studi literatur yang mendalam dan pencarian informasi yang masif secara mandiri. “Tantangan terberat memang pada istilah teknis. Namun, saya mencoba memetakan masalahnya terlebih dahulu, lalu mencari teknologi yang paling masuk akal melalui jurnal-jurnal ilmiah,” ungkapnya.

Pencapaian ini terasa kian prestisius mengingat Dea melangkah sebagai peserta individu di tengah kepungan lebih dari 500 pendaftar yang mayoritas berkompetisi dalam format tim. Berada di antara ratusan inovator nasional sempat membuatnya merasa terkejut dan tidak memasang ekspektasi tinggi. Namun, dedikasinya dalam meriset literatur berbuah manis hingga mengantarkannya ke podium tertinggi.

“Jujur kaget sekali karena pesertanya sangat banyak dan saya mendaftar secara mandiri. Saya sangat bersyukur atas pencapaian ini,” ungkap Dea dengan penuh rasa syukur.

Pada akhir, Dea menitipkan pesan bermakna bagi seluruh mahasiswa UNAIR agar tidak membatasi diri pada satu rumpun keilmuan saja dalam berinovasi. Menurutnya, inovasi sejati muncul dari kemauan untuk terus belajar lintas disiplin.

“Jangan pernah terpaku pada sekat antara Soshum atau Saintek. Semuanya sangat mungkin dicapai selama ada niat dan ketekunan yang kuat. Jika kita merasa terbatas secara keilmuan, jangan ragu untuk melakukan riset mandiri atau bertanya kepada teman yang lebih ahli,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk memulai langkah awal. “Intinya beranikan diri dulu. Sebab jika kita sudah melangkah maju, peluang kalahnya hanya 50 persen. Namun, jika kita tidak pernah berani mencoba sama sekali, maka kita sudah pasti kalah,” pungkas Dea dengan nada memotivasi.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia RohmawatiÂ