Secara umum Komite Audit dibeberapa Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) adalah unsur kelengkapan Majelis Wali Amanat yang berfungsi melakukan evaluasi hasil audit non – akademik secara independen atas penyelenggaraan sebuah perguruan tinggi. Tapi ada pula Komite Audit di PTN-BH yang berfungsi melakukan evaluasi hal-hal yang tidak hanya non-akademik tapi juga akademik.
Lalu dalam perkembangan jaman yang cepat seperti ini, ada pertanyaan apakah jajaran Komite Audit di PTN-BH hanya melakukan funsgi diatas dan menjadi “figuran” yang “standing on the side walk” dalam melihat perkembangan jaman itu dan tidak menjadi bagian penting dalam melakukan perubahan yang positif untuk kemajuan masing-masing PTN-BH. Pembicaraan tentang hal ini muncul setelah banyak Universitas memasukkan beberapa Tujuan Pembangunan Yang Berkelanjutan atau “The Sustainable Development Goals (SDGs)” sebagai unsur penting dalam upaya membangun bangsa lewat program-program di Perguruan Tinggi.
SDGs sendiri adalah seperangkat 17 tujuan global, yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015, yang bertujuan untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan untuk semua pada tahun 2030. 17 tujuan itu adalah kerangka kerja terpadu untuk perdamaian, kemakmuran, dan kesehatan planet, yang mencakup tujuan yang terkait dengan mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, memastikan kesehatan dan pendidikan yang baik, kesetaraan gender, air bersih, energi bersih, pekerjaan yang layak, dan aksi iklim.
Tentu Komite Audit tidak boleh hanya sebagai “observer” atau peninjau dalam pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan itu di masing-masing Perguruan Tingginya, tapi juga menjadi bagian penting untuk mengawal eksekusi tujuan tersebut.
Pada tanggal 10 – 12 September 2025 lalu di kota “Paris van Java” – Bandung – Universitas Pendidikan Bandung/UPI sebagai tuan rumah menylenggarakan pertemuan Forum Komunikasi Komite Audit PTN-BH yang berlangsung di Jasmine Junior Ballroom Pullman Bandung Grand Central Jl. Diponegoro no. 27, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025). Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., hadir dalam pertemuan Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH 2025, sekaligus menjadi Keynote speaker yang berbicara tentang Keberlanjutan, Akuntabilitas, dan Transisi Kepemimpinan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) pada PTN BH di Indonesia.
Pertemuan di majelis yang penting itu dihadiri tokoh-tokoh penting antara lainKetua Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH 2025 Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., C.A., M.Ec., Ph.D., Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Pendidikan Indonesia Komjen. Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna, M.Kom., Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro Prof. Mohamad Nasir, M.Si., Akt., Ph.D., sebagai narasumber, Sekretaris MWA Prof. Dr. Riandi, Ketua Komite Audit UPI, Prof. Disman, Ketua dan Anggota Komite Audit dari semua perguruan tinggi.
Para delegasi dari 25 PTN-BH dalam pertemuan itu membahas secara serius ESG (Environmental, Social, and Governance) atau Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola -serangkaian standar yang digunakan untuk mengukur dampak keberlanjutan suatu aktivitas pembangunan dan seberapa akuntabel sebuah lembaga terhadap lingkungan dan masyarakat. Konsep ini mencakup tiga pilar utama: Lingkungan (Environmental), yang berfokus pada dampak lembaga terhadap lingkungan seperti emisi dan pengelolaan limbah; Sosial (Social), yang memperhatikan interaksi lembaga dengan masyarakat dan karyawan, termasuk hak asasi manusia dan kondisi kerja; dan Tata Kelola (Governance), yang berkaitan dengan transparansi, integritas, dan praktik manajemen lembaga.
Kami dari Komite Audit UNAIR bersama-sama dengan seluruh peserta pertemuan sepakat akan perlunya perluasan peran Komite Audit, namun perlu ada pertimbangan lebih lanjut karena “the degree of development” masing-masing PTN-BH itu bervariasi. Karena itu diperlukan penguatan lembaga Komite Audit itu sendiri agar mampu berperan lebih intnesif dalam mengawal eksekusi unsur-unsur SDG, ESG di Perguruan Tinggi.
Tidak kalah pentingnya adalah soal sosialisasi tentang apa itu SDG dan ESG diseluruh jajaran Perguruan Tinggi karena jujur tidak semua stakeholder di PTN-BH ini sadar atau faham akan pentingnya keduanya.





