n

Universitas Airlangga Official Website

Beri Pendidikan untuk Masyarakat, Fakultas Vokasi Adakan Pengmas di Tuban

Salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh sivitas Fakultas Vokasi di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, pada minggu, (14/8). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Jumlah sapi dan pakan ternak yang tidak seimbang saat musim kemarau, membuat masyarakat Parengan, Tuban, harus mencari pakan ternak hingga ke luar kota. Inilah yang menjadi salah satu latar belakang sivitas Fakultas Vokasi Univsitas Airlangga mengadakan pengabdian masyarakat bertema “Pembuatan Pakan Ternak Sapi Potong dan Deteksi Kesehatan Dini Masyarakat” di Desa Kumpulrejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, pada minggu, (14/8). Mereka terdiri dari sebelas orang dosen dan dua orang mahasiswa yang berasal dari program studi D-3 Kesehatan ternak dan D-3 Analis Medis.

Desa Kumpulrejo, tempat diadakannya pengmas, merupakan salah satu dari ribuan desa di Indonesia yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak. Tak sedikit jumlah sapi potong yang ada di desa tersebut. Hingga saat ini, terhitung sekitar 5.000 ekor sapi yang tersebar di desa  Kumpulrejo. Jumlah sapi dan pakan yang tidak seimbang saat musim kemarau inilah yang menjadi masalah utama. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat Parengan, Tuban, harus mencari pakan ternak sampai di kabupaten seberang, seperti Bojonegoro.

Pakan ternak nang ndeso Kumpulrejo susah, Mbak. Biasane sampe Bojonegoro nek golek, numpak ontel, kadang mlaku, tapi sing duwe motor ya numpak motor,” jelas Supat warga Kumpulrejo kepada reporter UNAIR NEWS.

Melihat kondisi itu, Siti Eliana Rochmi dosen D-3 Kesehatan Ternak, Fakultas Vokasi, UNAIR memotori  dosen lainnya untuk memberikan sosialisasi terkait pembuatan pakan ternak yang mudah, biaya murah, tapi produksinya optimal. Selain itu, pada pengmas kali ini, disosialisasikan pula kepada masyarakat tentang bahaya dan resiko diabetes mellitus terhadap hipertensi.

“Pengmas kali ini dijadikan pondasi terlebih dahulu bagi masyarakat Kumpulrejo. Kami memasyarakatkan dulu cara membuat complete feet supaya produksi ternak optimal, serta sosialisasi tentang bahaya dan resiko diabetes mellitus terhadap hipertensi. Untuk action-nya, kami adakan pemeriksaan dini terhadap penyakit diabetes mellitus bagi peternak,” tutur Eli sapaan akrab Siti Eliana Rochmi.

Pada pengmas kali ini, Retno Sri Wahyuni, drh., MS menyampaikan materi seputar pembuatan complete feet, sedangkan sosialisasi resiko diabetes mellitus disampaikan oleh Rana Pradata, dr., MS.

Usai penyampaian materi, dibuka sesi diskusi yang mana terdapat dialogis antara masyarakat dan pemberi materi. Berbagai macam permasalahan mulai dilontarkan oleh warga Kumpulrejo, seperti masalah reproduksi ternak, gangguan dan penyakit dari sistem gerak ternak, serta pembuatan pakan ternak.

Setelah rangkaian pengmas usai, Kunarsono selaku Kepala Desa Kumpulrejo mengharapkan adanya tindak lanjut dari pengmas. Menurutnya, pengmas kali ini dirasa sangat membantu masyarakat setempat dalam mendapatkan informasi langsung dari pakar.

“Sebenarnya sudah banyak masyarakat Kumpulrejo yang berpendidikan, tapi rata-rata hanya sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) saja. Untuk yang kuliah jika dikalkulasi tidak sampai 10 orang pertahunnya. Dengan adanya kegiatan seperti ini, paling tidak bisa menumbuhkan kembali semangat belajar warga. Kami harap ada tindak lanjut dari kegiatan seperti ini. Jadi kita bisa merasaan adanya perubahan setelah orang UNAIR datang,” ujar Kunarsono.

Akhirnya, pengmas di Desa Kumpulrejo ditutup dengan sesi foto bersama serta pembagian vitamin ternak sapi potong bagi masyarakat Kumpulrejo. (*)

Penulis : Disih Sugianti
Editor    : Binti Q. Masruroh