UNAIR NEWS – Direktorat Riset dan Inovasi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali melanjutkan rangkaian DRI Week 2026: When Research Meets Innovation pada Selasa (14/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 1, Kantor Manajemen Kampus MERR-C tersebut menghadirkan sesi Industry-Government Strategic Dialogue sebagai ruang diskusi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri.
Dosen Fakultas Keperawatan UNAIR, Setho Hadisuyatmana SKep Ns MNS (CommHlth&PC), memandu jalannya dialog secara interaktif. Forum ini membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus mempertemukan berbagai perspektif dalam mendorong riset yang lebih aplikatif dan berdampak.
Riset Berdampak dan Berorientasi Solusi
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, Dr Andriyanto SH MKes CMed, menegaskan bahwa riset harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, nilai utama dari sebuah inovasi terletak pada dampak yang dihasilkan.
Ia menjelaskan bahwa kesenjangan antara riset dan industri di Indonesia masih cukup besar. Kondisi tersebut membuat banyak inovasi berhenti pada tahap prototipe dan gagal memasuki pasar. “Riset yang tidak memberikan manfaat sejatinya belum mencapai tujuan utamanya,” ujarnya.

Andriyanto juga menyoroti adanya valley of death antara riset dan industri. Jurang tersebut muncul ketika hasil riset tidak mampu bertransformasi menjadi produk massal akibat tingginya biaya produksi, kompleksitas regulasi, serta lemahnya kolaborasi antara akademisi dan industri. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya membangun pola pikir bisnis dalam pengembangan inovasi agar riset mampu menghasilkan nilai ekonomi.
Perkuat Kolaborasi untuk Transformasi Industri
Sejalan dengan Andriyanto, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur, H Adik Dwi Putranto SH MHP, menekankan sinergi antara riset dan kebutuhan industri. Ia menyampaikan bahwa penguatan sumber daya manusia menjadi fokus utama dalam mendorong transformasi ekonomi di Jawa Timur.
Menurutnya, perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai penghasil riset dan inovasi yang dapat industri manfaatkan. Oleh karena itu, KADIN mendorong penyusunan agenda riset strategis yang mencakup inovasi produk, proses produksi, pemasaran, teknologi, hingga aspek keberlanjutan dan tata kelola.
Ia juga menegaskan pentingnya peran kolaborasi dalam menjembatani kepentingan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. “Kami ingin mempertemukan dan menjembatani pemerintah, universitas, dan industri agar inovasi dapat benar-benar terimplementasi,” pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





