Di halaman rumah, kebun, atau pinggir jalan, kita sering menjumpai tanaman liar dengan bunga kecil berwarna kuning yang mudah menempel di pakaian. Banyak orang mengenalnya sebagai rumput liar atau gulma yang harus segera dicabut. Padahal, tanaman bernama Bidens pilosa ini menyimpan potensi luar biasa bagi kesehatan manusia, hewan, bahkan lingkungan. Tanaman yang juga dikenal dengan sebutan blackjack ini menjadi contoh nyata bahwa alam kerap menyediakan solusi kesehatan di tempat yang tidak kita duga. Sejak ratusan tahun lalu, Bidens pilosa telah digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara tropis dan subtropis. Daunnya dimasak sebagai sayuran, diseduh menjadi teh herbal, atau dijadikan ramuan tradisional untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Dalam catatan etnobotani, tanaman ini digunakan untuk membantu menurunkan gula darah, meredakan peradangan, mengatasi infeksi, hingga membantu pemulihan pada penyakit seperti malaria dan gangguan pencernaan. Bahkan dalam praktik tradisional peternakan, Bidens pilosa dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan ternak dan unggas.
Keistimewaan Bidens pilosa tidak hanya terletak pada tradisi, tetapi juga mulai dibuktikan secara ilmiah. Penelitian modern menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung beragam senyawa aktif alami atau fitokimia, seperti flavonoid, polifenol, terpenoid, alkaloid, dan senyawa khas yang disebut polyynes. Senyawa-senyawa inilah yang memberikan berbagai efek biologis, mulai dari antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, hingga antikanker. Flavonoid, misalnya, dikenal sebagai senyawa antioksidan kuat. Antioksidan berperan penting dalam melindungi tubuh dari radikal bebas, yaitu molekul berbahaya yang dapat merusak sel dan memicu penuaan dini serta berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penyakit jantung. Kandungan flavonoid yang tinggi membuat Bidens pilosa berpotensi menjadi sumber alami antioksidan yang murah dan mudah diakses.
Selain itu, Bidens pilosa juga menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang menjanjikan. Peradangan kronis diketahui menjadi akar dari banyak penyakit modern, seperti diabetes, penyakit autoimun, dan gangguan kardiovaskular. Beberapa senyawa dalam Bidens pilosa mampu menekan jalur peradangan di tingkat molekuler, sehingga membantu meredakan respon inflamasi berlebihan dalam tubuh. Hal ini menjelaskan mengapa tanaman ini secara tradisional digunakan untuk mengatasi nyeri sendi, rematik, dan luka. Manfaat lain yang menarik perhatian para peneliti adalah potensi antidiabetes Bidens pilosa. Sejumlah studi pada hewan percobaan menunjukkan bahwa ekstrak tanaman ini dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan memperbaiki fungsi sel pankreas yang menghasilkan insulin. Beberapa senyawa aktifnya bahkan dinilai mampu membantu mengatur metabolisme glukosa, baik pada kondisi diabetes tipe 1 maupun tipe 2. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan Bidens pilosa sebagai pendamping terapi diabetes berbasis bahan alam. Tak hanya itu, Bidens pilosa juga menunjukkan aktivitas antimikroba yang cukup luas. Ekstraknya terbukti mampu menghambat pertumbuhan berbagai bakteri, termasuk bakteri penyebab infeksi yang mulai resisten terhadap antibiotik. Di tengah meningkatnya ancaman resistensi antibiotik, temuan ini menjadi sangat relevan. Tanaman liar yang selama ini diabaikan justru berpotensi menjadi sumber antibakteri alami di masa depan.
Dalam bidang penyembuhan luka, Bidens pilosa juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa jus atau ekstrak daun tanaman ini dapat mempercepat proses regenerasi jaringan, meningkatkan pembentukan kolagen, serta mendukung pembentukan pembuluh darah baru. Inilah sebabnya mengapa dalam pengobatan tradisional, daun Bidens pilosa sering ditempelkan pada luka atau bisul. Menariknya, perkembangan ilmu metabolomik—ilmu yang mempelajari seluruh senyawa kecil dalam suatu organisme—semakin memperkuat potensi Bidens pilosa. Dengan teknologi seperti LC-MS dan HPLC, para ilmuwan dapat memetakan ratusan senyawa dalam tanaman ini. Setiap bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga akar, memiliki komposisi senyawa yang berbeda, sehingga berpotensi memberikan manfaat yang beragam. Namun hingga kini, masih banyak senyawa yang belum sepenuhnya dikarakterisasi, menandakan bahwa potensi Bidens pilosa masih jauh dari kata habis. Meski demikian, pemanfaatan Bidens pilosa tetap perlu dilakukan secara bijak. Studi toksikologi menunjukkan bahwa tanaman ini relatif aman pada dosis tertentu, tetapi konsumsi berlebihan, terutama dalam bentuk ekstrak pekat, berpotensi menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dan uji klinis pada manusia sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Kisah Bidens pilosa memberi pelajaran penting bagi kita semua. Tanaman yang sering dianggap gulma dan pengganggu justru menyimpan kekayaan hayati yang bernilai tinggi. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat dan pengelolaan yang berkelanjutan, Bidens pilosa berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan fungsional, bahan baku obat herbal, hingga produk kesehatan alami. Barangkali, di antara tanaman liar di sekitar kita, tersimpan jawaban atas tantangan kesehatan masa depan.
Penulis: Alfiah Hayati
Informasi detail dari buku ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
The Genus Bidens Chemistry and Pharmacology,
ISBN 978-981-96-4256-4 ; ISBN 978-981-96-4257-1 (eBook)
https://doi.org/10.1007/978-981-96-4257-1
https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-96-4257-1
Metabolomic, Phytochemical, and Pharmacological Properties of Bidens pilosa L.
Salaudeen Abdulwasiu Olawale, Alfiah Hayati, and Vuanghao Lim





