Universitas Airlangga Official Website

Bijak Gunakan Deksametason Saat Kehamilan

sumber: Primaya Hospital
sumber: Primaya Hospital

Deksametason adalah obat yang sering disebut-sebut sebagai “obat dewa” karena mampu meredakan nyeri dan peradangan dengan cepat. Obat ini sering digunakan tanpa resep dokter karena harganya terjangkau dan mudah diperoleh. Banyak orang tidak menyadari bahwa penggunaan deksametason yang tidak sesuai pada masa kehamilan bisa berakibat fatal. Penelitian dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi mencoba mengungkap dampak yang terjadi pada tubuh ketika deksametason diberikan kepada ibu hamil dengan menggunakan tikus Wistar sebagai model percobaan.

Sebanyak 120 ekor tikus Wistar betina yang sedang hamil dibagi dalam empat kelompok. Satu kelompok kontrol tidak diberi obat, sementara tiga kelompok lainnya disuntik deksametason dengan dosis bertingkat (0,36 mg, 0,72 mg, dan 0,75 mg per hari) selama satu minggu pada trimester kedua kehamilan. Hasil dari penelitian menunjukkan semakin tinggi dosis deksametason yang diberikan membuat kadar hormon progesteron dan LH yang sangat penting untuk mempertahankan kehamilan menjadi turun drastis. Hormon tersebut berfungsi menyiapkan rahim agar janin bisa tumbuh dengan baik. Penurunan kadar hormon membuat tubuh menjadi tidak siap untuk mendukung kehamilan. Deksametason juga membuat lapisan endometrium yang seharusnya tebal menjadi semakin tipis. Pada dosis tertinggi, lapisan yang sangat tipis tidak mampu mendukung perkembangan janin dan bahkan menyebabkan keguguran. Tikus-tikus yang menerima dosis tinggi menunjukkan tanda keguguran. Ini menunjukkan bahwa penggunaan deksametason secara sembarangan bisa mengganggu proses alami tubuh selama kehamilan.

Meskipun penelitian ini dilakukan pada tikus, hasilnya memberi peringatan penting bagi manusia. Sistem reproduksi mamalia memiliki banyak kesamaan, dan efek negatif yang ditemukan pada tikus kemungkinan besar bisa terjadi juga pada manusia. Terlebih, enzim pelindung di plasenta manusia yang biasanya bisa menyaring hormon stres alami tidak mampu menangkal deksametason karena sifatnya yang sintetis. Artinya, janin tetap bisa terpapar obat ini jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Penelitian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan obat-obatan baik untuk manusia maupun hewan pada masa kehamilan. Deksametason memang bermanfaat sebagai anti inflamasi. Tapi penggunaannya harus dilakukan dengan resep dan pengawasan dokter. Penggunaan deksametason secara sembarangan hanya karena ingin cepat sembuh bisa membawa risiko besar. Tidak hanya bagi ibu, tapi juga bagi janin yang sedang berkembang di dalam rahim. Kehamilan merupakan masa yang sangat sensitif. Bijaklah dalam menggunakan obat. Jangan sampai niat untuk sembuh justru membawa petaka.

Penulis: Amung Logam Saputro, drh., M.Si.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/characterization-of-the-effect-of-graded-doses-of-dexamethasone-a