Kedelai (Glycine max L.) adalah salah satu tanaman pangan yang penting, baik sebagai bahan baku pangan maupun pakan ternak. Namun, dalam budidaya kedelai, penggunaan pupuk kimia sering kali menghasilkan residu yang dapat mencemari tanah dan air. Salah satu solusi yang kini semakin populer adalah penggunaan biofertilizer atau pupuk hayati, yang dipercaya dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Sebuah penelitian baru-baru ini menguji pengaruh aplikasi biofertilizer pada pertumbuhan dan hasil panen kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dosis dan frekuensi aplikasi biofertilizer dapat meningkatkan produktivitas tanaman kedelai, serta seberapa besar Relative Agronomic Effectiveness (RAE) atau efektivitas agronomis relatif yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan desain percobaan yang disebut Completely Randomized Design, dengan 9 kombinasi perlakuan dan 2 kelompok kontrol (positif dan negatif), yang masing-masing diulang tiga kali.
Dalam percobaan ini, dosis biofertilizer yang diuji adalah 5 mL, 10 mL, dan 15 mL per tanaman. Sementara itu, frekuensi aplikasi biofertilizer diuji dalam tiga pola: satu kali pada minggu pertama setelah tanam (1 WST), dua kali pada minggu pertama dan keempat setelah tanam (1 dan 4 WST), dan tiga kali pada minggu pertama, keempat, dan kedelapan setelah tanam (1, 4, dan 8 WST). Kelompok kontrol negatif tidak menerima aplikasi biofertilizer, sementara kelompok kontrol positif diberi pupuk NPK sebanyak 5 g per tanaman.
Beberapa aspek pertumbuhan tanaman yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Sedangkan untuk produktivitas, peneliti mengukur jumlah polong, berat polong, berat biji kering, dan berat per 100 biji. Hasilnya cukup menarik. Perlakuan dengan 10 mL biofertilizer yang diterapkan dua kali (B10F2) menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai. Bahkan, perlakuan ini menghasilkan nilai RAE sebesar 169,70%, yang menunjukkan bahwa penggunaan biofertilizer pada dosis dan frekuensi ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan kontrol positif (pupuk NPK).
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari hasil penelitian ini? Ternyata, biofertilizer dapat menjadi alternatif yang sangat menjanjikan dalam meningkatkan hasil panen kedelai, sambil mengurangi penggunaan pupuk kimia. Selain itu, penggunaan biofertilizer juga lebih ramah lingkungan, karena tidak meninggalkan residu berbahaya di tanah.
Temuan ini memberikan harapan baru bagi petani untuk mengelola pertanian secara lebih berkelanjutan, mengurangi dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia, dan tetap menghasilkan panen yang melimpah. Dengan dosis yang tepat dan frekuensi aplikasi yang sesuai, biofertilizer dapat membantu meningkatkan produktivitas tanaman kedelai dengan cara yang lebih alami dan ramah lingkungan.
Penulis : Dr. Fatimah, S.Si., M.Kes.
Jurnal dapat diakses pada : https://agrivita.ub.ac.id/index.php/agrivita/issue/view/55





