Universitas Airlangga Official Website

Bioselulosa Air Kelapa sebagai Bahan Masker Wajah

ilustrasi masker wajah (sumber: halo doc)

Bentuk sediaan sheet mask (masker wajah dengan jenis lembaran) saat ini menjadi tren. Sediaan sheet populer karena kepraktisan dan efektivitasnya, serta tidak perlu pembilasan setelah pengguna dan higienis karena sekali pemakaian. Bahan masker wajah umumnya tersusun dari serat non-anyaman yang terbuat dari serat selulosa tanaman. Bahan serat tersebut adalah kapas, yang membentuk pola wajah, dan mendapat resapan cairan kosmetik yang formulasinya sesuai dengan jenis kulit. Mekanisme kerja dari bentuk sediaan ini adalah occlusive dressing treatment (ODT). Mekanisme ini memungkinkan penetrasi dan penyerapan bahan aktif lebih baik dalam waktu yang lebih lama daripada dengan kosmetik cair biasa. 

Salah satu biomaterial yang berpotensi mendapat pengembangan dalam inovasi sediaan sheet mask adalah selulosa bakteri atau bioselulosa, yaitu suatu eksopolimer yang tersusun atas unit β-1,4-D-glukopiranosa dan biasanya mikroorganisme aerobik produksi, seperti Gluconacetobacter, Sarcina, dan Achromobacter. Bioselulosa bersifat biodegradable, ramah lingkungan, nontoksik, nonalergenik, stabil secara kimia, dan biocompatible. Berbeda dengan selulosa tanaman, bioselulosa memiliki karakteristik kemurnian, kristalinitas, derajat polimerisasi, tensile strength dan Young’s modulus tinggi, diameter serat yang kecil, dan hidrofilisitas tinggi. Dalam produksi bioselulosa faktor yang mempengaruhi kualitas bioselulosa antara lain jenis atau strain bakteri dan kondisi fermentasi (meliputi; metode produksi, lama inkubasi, jumlah inokulum, sumber nutrisi).

Beberapa spesies Lactobacillus telah banyak perusahaan gunakan dalam pembuatan bioselulosa. Lactobacillus banyak perushaan pakai karena bersifat non-patogen, aman, dan telah mendapatkan pengakuan sebagai Generally Recognized as Safe (GRAS). Pada penelitian ini bakteri yang peneliti gunakan dalam produksi bioselulosa adalah Lentilactobacillus parafarraginis (basionym: Lactobacillus parafarraginis).

Metode pembuatan bioselulosa menggunakan metode statis menghasilkan bioselulosa dengan karakteristik lebih baik daripada metode kultur lainnya. Media kultur adalah bagian terpenting untuk produksi bioselulosa karena tidak hanya menyediakan nutrisi yang perlu ada untuk pertumbuhan bakteri dan produksi bioselulosa. Namun, juga secara signifikan mempengaruhi struktur dan hasil bioselulosa, termasuk sifat mekanik dan fisiknya. Pada penelitian ini peneliti mengunakan air kelapa sebagai komponen media kultur. Kualitas air kelapa selama penyimpanan dapat mengalami perubahan karena proses fermentasi oleh mikroba alami, seperti L. plantarum, L. paracasei, dan Pediococcus sp.

Hal tersebut mengakibatkan peningkatan jumlah bakteri asam laktat dan menurunkan pH air kelapa. Selain itu, proses fermentasi alami tersebut mengakibatkan perubahan kandungan air kelapa. Terutama gula yang merupakan sumber karbon terbaik untuk pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti melakukan optimasi lama penyimpanan air kelapa di suhu ruang. Hal ini penting untuk menghasilkan bioselulosa dengan karakteristik yang baik. Berdasarkan uji pendahuluan, terbukti bahwa air kelapa yang disimpan selama 2 hari memiliki karakteristik lebih baik dibandingkan dengan penyimpanan 1 dan 3 hari. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lama penyimpanan air kelapa dan jumlah inoculum bakteri Lentilactobacillus parafarraginis terhadap sifat selulosa bakteri kering. Air kelapa peneliti simpan selama 1, 2, dan 3 hari dengan jumlah inokulum untuk menghasilkan selulosa bakteri adalah 4, 6, 8, dan 10%. Setelah fermentasi selama 9 hari, selulosa bakteri dipanen dan dikeringkan dalam oven. Selulosa bakteri dievaluasi berdasarkan organoleptik, berat, ketebalan, pH, derajat swelling, kadar air, kekuatan mekanik, dan sifat transmisi uap air (WVTR). Analisis spektrum FTIR dan morfologi SEM peneliti lakukan pada selulosa bakteri dengan karakteristik optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selulosa bakteri dengan penyimpanan air kelapa selama 2 hari dan ukuran inokulum 10% (BC 210) menunjukkan karakteristik optimum, dan berpotensi mendapat pengembangan sebagai kandidat biomaterial baru untuk aplikasi yang luas.

Penulis: Prof. Dr. apt. Tristiana Erawati M., Dra., M.Si. 

Informasi detail riset ini terdapat pada artikel kami di:

https://www.tjnpr.org/index.php/home/article/view/3561/4074

Ningsih IY, Hidayat MA, Kuswandi B, Erawati T. Effect of Coconut Water Storage Time and Inoculum Size of Lentilactobacillus parafarraginis on Dried Bacterial Cellulose Properties. Trop J Nat Prod Res. 2024; 8(2):6291-6299. http://www.doi.org/10.26538/tjnpr/v8i2.29

Baca Juga: Literatur di Era Digitalisasi