Beberapa fasilitas Kesehatan lokal di Wuhan, Cina melaporkan sekelompok kasus pneumonia dengan penyebab yang tidak diketahui pada akhirnya Desember 2019. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Cina (CDC China) mengirimkan tim cepart tanggap untuk membantu Provinsi Hubei dan Kota Wuhan melakukan investigasi epidemiologi dan etiologi pada 31 Desember 2019. Mereka bertugas melaporkan hasil investigasi, mengidentifikasi sumber kluster pneumonia, dan menjelaskan coronavirus yang baru terdeteksi pada pasien yang spesimennya diuji oleh CDC China pada awal wabah. Sebulan kemudian, WHO mengumumkan pandemic karena coronavirus.
Berbagai kebijakan pemerintah sudah mempengaruhi seluruh sektor pariwisata untuk menekan lonjakan dalam jumlah pasien COVID-19 di seluruh dunia. Beberapa kebijakan yang diterapkan adalah lock-down (hanya di negara tertentu), social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan patroli ketertiban oleh seluruh satuan kepolisian dan pejabat terkait lainnya. Dalam menjalankan kebijakan ini, setiap individu didorong untuk menerapkan peraturan berdasarkan kenormalan baru, yaitu sesuai dengan ketentuan protokol kesehatan.
Menjaga kebersihan sangat penting dalam menjalankan protokol kesehatan. Perawatan permukaan yang kemungkinan terkena berbagai bakteri dan virus dapat membasmi atau bahkan membunuh koloni bakteri dan virus. Namun, mengingat ukuran bakteri dan virus yang sangat kecil, diperlukan alat khusus untuk membantu manusia dalam mendeteksi dan memberantas mikroorganisme ini. Kemajuan teknologi, seperti penggunaan alat sterilisasi yang dapat menghilangkan koloni bakteri dan virus di permukaan benda, sangat penting selama pandemi. Pemasangan komponen utama pada sterilizer yang dipancarkan dari spektrum ultraviolet tipe C (UVC). Radiasi UV-C, yang bersifat bakterisidal, didefinisikan mampu membunuh bakteri dan virus koloni.
Beberapa penelitian telah menunjukkan keefektifan sinar UV untuk inaktivasi berbagai patogen, termasuk bakteri, jamur, dan virus. UV-C dapat menonaktifkan DNA virus, termasuk yang memiliki DNA beruntai tunggal dan ganda. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa paparan sinar UV-C dengan panjang gelombang 254 nm lebih efisien dalam menonaktifkan virus SARS-CoV dibandingkan paparan UV-A. Radiasi UV dapat menyebabkan beberapa jenis kerusakan RNA, termasuk modifikasi fotokimia, ikatan silang, dan kerusakan oksidatif. Fotoproduk terbentuk sesuai dengan prinsip umum foto-reaktivitas RNA.
Banyak robot desinfeksi UV sedang dikembangkan. Berbagai teknik digunakan untuk mengurangi kontak dengan manusia sebagai operator. Beberapa dari teknik ini menggunakan robot line-follower untuk mengarahkan robot UV, sebuah android sehingga operator secara jarak jauh dapat mengontrolnya secara real time, dan program pemetaan ruangan untuk segera disterilkan pada awal penggunaan robot. Robot ini hanya bisa digunakan di ruangan kosong tanpa ada manusia. Saat bersentuhan dengan manusia. Bahaya dari Sinar UV adalah alasan utama untuk mengembangkan robot desinfeksi dengan UV yang dapat mendeteksi keberadaan manusia.
Cara membuat alat sterilisasi UV yang dapat bekerja dengan adanya manusia di dalam ruangan itu merupakan suatu tantangan. Hal ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan: merancang robot UV tertutup yang menyedot udara dari ruangan dan dikombinasikan dengan saringan udara partikel yang memiliki efisiensi tinggi (HEPA). Robot ini akan menyedot udara di dalam ruangan untuk disterilkan dalam ruang UV tertutup, dilewatkan filter HEPA, lalu dilepaskan kembali ke dalam ruangan. Pendekatan kedua adalah menyesuaikan tata letak lampu UV dan pola ventilasi untuk mengontrol transmisi penyakit yang ditularkan melalui udara.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah berbagai robot pensteril UV telah dikembangkan untuk menonaktifkan virus guna meminimalkan penularan penyakit melalui udara. Namun, dosis yang dikeluarkan hanya berdasarkan perhitungan teoritis pada kondisi optimal tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kegagalan sterilisasi. Efektivitas robot pensteril UV dapat ditingkatkan dengan menambahkan sistem umpan balik yang tidak terpengaruh oleh gangguan eksternal.
Penulis: Alfian Pramudita Putra, S.T., M.Sc.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of Medicine and Health Sciences. Berikut ini adalah link dari artikel tersebut:
https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2022093009322918_MJMHS_1593.pdf.
C. Nurcahyani Kiai Demak, N. Siti Ayati, D. Ayu Mayasari, A. Pramudita Putra, Can Autonomous UV Disinfection Robots Sterilize a Room? A Review, 2022. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol. 18 (SUPP10): 111-115.





