Universitas Airlangga Official Website

Blok Saraf Perifer dengan Teknik Blok Infraklavikula pada Pasien dengan Riwayat Stroke

Blok Saraf Perifer dengan Teknik Blok Infraklavikula pada Pasien dengan Riwayat Stroke
Sumber: detikcom

Blok neuraksial pusat dan blok saraf perifer adalah dua kategori utama blok anestesi. Blok saraf perifer semakin populer karena presisi, efektivitas, dan langkah-langkah keamanannya yang lebih baik. Tujuannya adalah menghentikan transmisi impuls lebih jauh ke otak, sehingga menghentikan sinyal nyeri. Awalnya, blok saraf perifer dilakukan dengan memancing sensasi abnormal, sebelum akhirnya menggunakan metode stimulasi saraf. Selama operasi ekstremitas atas, pendekatan infraklavikula pada pleksus brakialis dengan anestesi lokal perineural memberikan penghilang nyeri yang lebih baik untuk seluruh lengan dibandingkan pendekatan aksiler atau interskalen. Pasien dengan riwayat stroke memiliki risiko komplikasi perioperatif lebih tinggi karena kecacatan neurologis yang sudah ada, komorbiditas, dan efek anestesi serta operasi. Oleh karena itu, strategi anestesi yang tepat diperlukan untuk mengurangi risiko ini.

Seorang pria Indonesia berusia 56 tahun mengalami luka akibat parang di tangan kiri saat menebang cabang pohon. Riwayat kesehatan menunjukkan tidak ada alergi terhadap obat atau makanan, serta tidak ada riwayat hipertensi, gagal ginjal, diabetes mellitus, atau asma. Namun, pasien memiliki riwayat stroke 3 tahun sebelumnya. Vital sign pasien normal dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 82 ×/menit, dan SpO2 96% (udara ruangan). Pemeriksaan fisik menunjukkan luka terbuka di tangan kiri (3×1 cm) tanpa perdarahan aktif. Pasien juga mengalami hemiparesis di sisi kiri. Manajemen meliputi debridemen, eksplorasi, tenorrhaphy jika diperlukan, dan penjahitan primer dengan anestesi blok saraf perifer menggunakan teknik infraklavikula. Anestesi dilakukan dengan bantuan ultrasonografi dan stimulasi saraf. Ropivacaine 0,5% sebanyak 30 mL digunakan untuk memblokir pleksus brakialis. Selama prosedur, kondisi hemodinamik pasien stabil dan durasi operasi sekitar 3 jam. Pasca-operasi, pasien menunjukkan kondisi stabil tanpa tanda-tanda komplikasi atau infeksi.

Anestesi lokal bertujuan untuk mencegah konduksi impuls dengan memblokir saluran natrium pada membran neuron. Dibandingkan anestesi umum, anestesi regional lebih umum digunakan pada operasi ortopedi, khususnya ekstremitas, karena mengurangi nyeri pasca-operasi dan kebutuhan opioid. Teknik infraklavikula juga lebih disukai karena meminimalkan perpindahan ekstremitas yang cedera. Keuntungan teknik infraklavikula dibandingkan metode lainnya terletak pada kemampuannya untuk memberikan blok yang lebih menyeluruh pada pleksus brakialis tanpa memerlukan repositioning ekstremitas yang mungkin menyakitkan pada pasien dengan cedera traumatis. Pendekatan ini juga mengurangi risiko komplikasi seperti pneumotoraks, yang lebih umum terjadi pada teknik supraklavikula.

Penggunaan ultrasonografi meningkatkan akurasi visualisasi struktur saraf, mengurangi risiko cedera saraf, dan menurunkan volume anestesi lokal yang diperlukan. Dengan bantuan ultrasonografi, anestesiologis dapat mengidentifikasi struktur penting seperti arteri aksilaris dan memastikan penempatan jarum yang optimal. Kombinasi ultrasonografi dan stimulasi saraf direkomendasikan untuk hasil optimal, karena dapat meningkatkan keberhasilan blok dan meminimalkan risiko efek samping. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam teknik ini. Penggunaan ultrasonografi membutuhkan keterampilan teknis yang memadai dan peralatan khusus. Selain itu, penempatan jarum yang tidak tepat dapat menyebabkan komplikasi seperti hematoma, kerusakan saraf, atau toksisitas anestesi lokal. Oleh karena itu, pelatihan dan pengalaman yang cukup sangat penting bagi tenaga medis yang melakukan prosedur ini.

Pada pasien dengan riwayat stroke, penting untuk mempertimbangkan fungsi serebrovaskular dan status kesehatan umum. Pasien pasca-stroke memiliki risiko komplikasi perioperatif yang lebih tinggi, termasuk kemungkinan terjadinya stroke ulang. Dalam kasus ini, anestesi regional, seperti teknik infraklavikula, menawarkan keuntungan karena menghindari dampak hemodinamik yang lebih besar yang sering dikaitkan dengan anestesi umum. Selain itu, penggunaan anestesi lokal memiliki manfaat tambahan dalam mengurangi kebutuhan obat pasca-operasi, seperti opioid, yang dapat memiliki efek samping signifikan, terutama pada pasien dengan gangguan neurologis. Teknik ini juga memungkinkan pemulihan yang lebih cepat dan nyaman bagi pasien, karena nyeri pasca-operasi dapat diminimalkan. Dengan demikian, teknik infraklavikula merupakan pilihan yang sangat sesuai untuk pasien dengan riwayat stroke yang memerlukan operasi ekstremitas atas. Pendekatan ini tidak hanya memberikan kontrol nyeri yang efektif tetapi juga meminimalkan risiko komplikasi perioperatif, seperti yang terlihat dalam kasus ini.

Kesimpulan laporan kasus ini yaitu pendekatan pleksus brakialis dengan blok infraklavikula memberikan analgesia superior untuk operasi ekstremitas atas dibandingkan pendekatan lain. Kombinasi ultrasonografi dan stimulasi saraf direkomendasikan untuk efisiensi dan keamanan optimal. Teknik ini aman dan efektif untuk pasien dengan riwayat stroke, seperti yang ditunjukkan pada laporan kasus ini, dengan hasil pasca-operasi yang stabil tanpa komplikasi.

Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono W., dr., SpAn-TI., Subsp. An.R(K)., Subsp. TI(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://pjlss.edu.pk/pdf_files/2024_2/11177-11183.pdf

Alala S, Waloejo CS. Peripheral Nerve Block with Infraclavicular Block in Patient with Prior History of Cerebrovascular Accident: A Case Report. Pak J Life Soc Sci. 2024;22(2):11177–83.