Bluetongue (BT) merupakan penyakit viral infeksius yang tidak menular antarhewan secara langsung, tetapi ditransmisikan melalui gigitan lalat Culicoides. Penyakit ini disebabkan oleh Bluetongue virus (BTV), anggota famili Reoviridae dan genus Orbivirus. BT menyerang berbagai ruminansia domestik dan liar, termasuk domba, kambing, sapi, unta, rusa, llama, dan antelop. Domba merupakan spesies yang paling rentan secara klinis, sementara sapi umumnya menunjukkan infeksi ringan atau subklinis. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) menetapkan BT sebagai penyakit notifikasi internasional karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan hewan dan ekonomi peternakan. BTV tidak bersifat zoonotik dan tidak menginfeksi manusia. Secara historis, BT pertama kali dilaporkan di Cape Town, Afrika Selatan, pada akhir abad ke-18, kemudian menyebar ke negara-negara Afrika lainnya, Eropa, Asia, dan Amerika. Saat ini, BTV telah terdeteksi di semua benua kecuali Antarktika. Nama penyakit ini merujuk pada salah satu ciri klinis utamanya, yaitu sianosis pada lidah (“blue tongue”) akibat trombosis vaskular, edema, dan perdarahan yang disebabkan oleh kerusakan endotel pembuluh darah. Manifestasi klinis lain meliputi demam tinggi, peradangan lidah dan mukosa usus, kepincangan akibat lesi pada kuku, serta fokus nekrotik pada mukosa hidung dan mulut.
Diagnosis akurat sangat penting untuk pengendalian BT dan menjaga keamanan perdagangan internasional hewan dan produk hewan. Diagnosis tentatif dapat dibuat berdasarkan gejala klinis dan lesi patologis, namun konfirmasi memerlukan pemeriksaan laboratorium. Metode standar mencakup deteksi RNA virus menggunakan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) dan isolasi virus pada kultur sel mamalia atau serangga serta telur ayam berembrio. Typing dan karakterisasi molekuler diperlukan untuk identifikasi serotipe secara tepat, sedangkan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) antigen spesifik kelompok umum digunakan untuk mengonfirmasi isolat virus. Secara global, BT menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai USD 3 miliar per tahun. Kerugian langsung meliputi tingginya angka morbiditas dan mortalitas, abortus, lahir mati, bobot lahir rendah, penurunan fertilitas, penurunan produksi susu, dan pemotongan dini hewan. Kerugian tidak langsung mencakup pembatasan perdagangan hewan hidup, produk hewan, dan germplasm, serta biaya vaksinasi, diagnostik, pengendalian vektor, dan perawatan suportif. Dampak sosial-ekonomi semakin besar di negara berpendapatan rendah dan menengah, di mana ruminansia kecil merupakan sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan.
Perubahan iklim turut memengaruhi distribusi global BT melalui perluasan habitat dan aktivitas vektor Culicoides. Jika penyebaran BTV tidak terkendali, ketersediaan daging, susu, dan produk hewan lain di pasar dapat terganggu secara signifikan. Meskipun penelitian tentang BTV telah berlangsung selama beberapa dekade, sejumlah kesenjangan masih membatasi efektivitas pengendalian penyakit ini. Sebagian besar vaksin yang tersedia bersifat spesifik serotipe sehingga tidak memberikan perlindungan silang, terutama pada daerah dengan sirkulasi beberapa serotipe atau kemunculan varian baru. Vaksin berplatform DIVA (Differentiating Infected from Vaccinated Animals) masih terbatas, meskipun sangat penting bagi kegiatan surveilans dan perdagangan. Di sisi diagnostik, RT-PCR dan whole-genome sequencing telah meningkatkan akurasi deteksi, namun penerapannya belum merata di wilayah endemik, terutama di negara dengan fasilitas laboratorium terbatas. Peran reservoir satwa liar juga belum dipahami dengan baik sehingga menyulitkan penilaian risiko di perbatasan habitat satwa liar–ternak. Perubahan distribusi vektor akibat iklim masih memerlukan pemodelan ekologi yang lebih komprehensif, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Selain itu, penelitian dampak sosial-ekonomi masih didominasi oleh studi di negara maju, sementara data jangka panjang di negara berkembang sangat terbatas.
Penulis: Prof. Dr. Mohammad Anam Al Arif, drh., M.P
Nama jurnal: Veterinary World
Link jurnal: https://veterinaryworld.org/Vol.18/October-2025/12.pdf





