Universitas Airlangga Official Website

BookTok itu Pengarah Preferensi Sastra

Apakah bacaan sastra roman kita mencerminkan preferensi bacaan kita? Bagaimanakah selera bacaan itu terbentuk? Mengapa preferensi bacaan kita cenderung sama dengan pilihan bacaan orang lain? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang mendasari artikel bertajuk “Mass-Produced Romance: BookTok Society and The Homogenization of Literary Culture” yang dimuat di jurnal Studi Komunikasi. Artikel ini mengeksplorasi sub-komunitas di TikTok yang didedikasikan untuk pecinta buku, BookTok.

Artikel ini berfokus pada homogenisasi budaya sastra, sebuah proses di mana penceritaan menjadi standar dan formulasi karena dinamika pasar dan platform. Berlandaskan pada teori industri budaya yang digagas seorang tokoh Frankfurt School, Theodor Adorno. Artikel ini menguji pengaruh promosi dalam BookTok yang berkontribusi pada standarisasi budaya. Tagar-tagar seperti “Enemies to Lovers” dan “Fake Dating” terbukti memengaruhi tidak hanya terhadap buku yang dipilih pembaca,  tetapi juga pada penerbit dalam menanggapi tren populer yang pada gilirannya mengarah pada siklus di mana jenis konten tertentu mendominasi ruang sastra.

Di satu sisi, peningkatan pesat BookTok telah menghasilkan jalur baru bagi penulis sastra. Di sisi lain, peningkatan ini berakibat pada penyempitan keragaman kreatif. Buku-buku yang mengikuti pola viral menerima paparan yang tidak proporsional, sementara karya-karya unik atau eksperimental berjuang untuk mendapatkan visibilitas. Studi ini bertujuan untuk memahami apakah BookTok bertindak hanya sebagai platform untuk penemuan atau sebagai mekanisme reproduksi budaya, yang memperkuat berbagai narasi sastra yang terbatas untuk daya tarik massa.

Penulisan artikel ini merupakan hasil penelitian ini secara metodologis memadukan metode pengkajian budaya baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam penelitian budaya. Analisis homogenisasi budaya sastra dilakukan dengan melihat tagar tema dan kiasan yang berulang dalam konten romansa BookTok. Homogenisasi dioperasionalkan sebagai pengulangan elemen plot yang serupa, seperti “Enemies to Lovers,” “Billionaire Romance,” dan “Third-Act Breakups”.Analisis dilakukan pada konten video BookTok yang memiliki keterlibatan tinggi menggunakan tagar seperti #BookTok dan #RomanceBookTok. Tagar ini dianalisis untuk mengidentifikasi kiasan dan gaya naratif yang berulang. Bagian komentar dari video ini juga diamati untuk menangkap pandangan audiens terhadap tren ini dan mengetahui pengaruh tren terhadap preferensi pembaca.Data juga diperoleh melalui survei terhadap 50 responden yang direkrut melalui Goodreads, tagar komunitas BookTok, dan platform media sosial lainnya. Skala Likert digunakan untuk mengeksplorasi persepsi pengguna tentang pengulangan sastra, frekuensi kiasan yang serupa, dan bagaimana BookTok membentuk pilihan membaca.Wawancara mendalam terhadap tiga pembaca setiap novel roman. Wawancara ini dilakukan untuk membahas narasi berulang di BookTok dan respons mereka terhadap algoritma TikTok.

Hasil studi ini menemukan bahwa algoritme BookTok berkontribusi besar pada standardisasi genre romansa. Frasa berulang seperti “Enemies to Lovers” dan “Fake Dating,” mendominasi konten yang dibuat oleh pengguna. Buku-buku seperti The Spanish Love Deception dan The Hating Game sering muncul dalam video yang viral. Judul-judul ini bukanlah kesuksesan yang mandiri, tetapi merupakan cerminan pola pasar yang digerakkan oleh algoritme yang lebih luas. Laporan industri tahun 2023 mengungkapkan bahwa lebih dari 60% novel romansa dalam Daftar Buku Terlaris The New York Times memiliki daya tarik BookTok (James, 2023), dan penjualan Colleen Hoover meningkat sebesar 200% dalam waktu dua tahun karena viralnya TikTok (Guehring, 2023). Hasil survei menunjukkan bahwa 80% responden sering menemukan frasa berulang, dan 66% mengakui bahwa BookTok sangat memengaruhi preferensi buku mereka.

Hasil penelitian ini memperkuat konsep “kebutuhan palsu” (false needs) yang digagas oleh Adorno, di mana pilihan individu dibentuk oleh popularitas platform, bukan karena preferensi pribadi. Adorno menyatakan bahwa media lebih menyukai informasi yang terstandardisasi dan mudah diasimilasi untuk maksimisasi profit (keuntungan). Demikian pula, BookTok menggunakan kurasi algoritmik untuk memastikan bahwa buku-buku terlaris, yakni buku-buku yang menimbulkan reaksi emosional yang kuat dan tingkat keterlibatan yang tinggi, terus mendominasi percakapan. Informan penelitian menggemakan sentimen ini. Misalnya, seorang informan menyatakan bahwa meskipun ia menikmati frasa yang familiar, namun paparan yang berlebihan kemudian membuatnya mencari genre yang lebih kompleks seperti fiksi sastra. Pernyataan seperti “Buku ini menghancurkan saya!” menggambarkan bagaimana konten BookTok memanfaatkan pengalaman emosional bersama. Narasi berulang ini malah menunjukkan budaya pembenaran (validasi) ketimbang kritik atas produk budaya. BookTok menjadi  kontributor pada apa yang diistilahkan oleh Adorno sebagai konsumsi pasif barang-barang budaya yang diproduksi secara massal.

Pengaruh BookTok ternyata meluas ke praktik penerbitan, di mana tren viral menentukan keputusan editorial. Penulis dan penerbit sekarang membentuk cerita agar sesuai dengan ekspektasi algoritmik, yakni memprioritaskan hasil emosional dan potensi viral daripada kompleksitas naratif. Dinamika ini sejalan dengan kritik Adorno bahwa industri budaya menekan orisinalitas demi kesuksesan komersial. Peta pikiran visual yang disajikan dalam penelitian ini menggambarkan bagaimana tren, algoritma, dan preferensi konsumen saling berhubungan untuk membentuk siklus homogenisasi sastra yang saling memperkuat.

Meskipun BookTok mendemokratisasi akses ke literatur serta menumbuhkan komunitas pembaca yang bersemangat, artikel ini memperingatkan bahwa demokratisasi ini berisiko menyempitkan budaya. Logika industrialisasi budaya beroperasi di ruang digital kontemporer, menawarkan perspektif baru tentang komodifikasi sastra dalam lingkungan algoritmik. Penelitian di masa depan seyogyanya dapat meneliti cara-cara untuk mendobrak pola-pola ini untuk memastikan bahwa interaksi sastra di BookTok tidak hanya mendorong konsumsi, tapi juga perdebatan sastra yang kritis dan beragam.

Penulis: Johny A. Khusyairi – Anggie Ayu Isra Tristanty

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dengan judul “Mass-produced romance: BookTok society and the homogenisation of literary culture” di:

Jurnal Studi Komunikasi, Vol.9, No. 1, Maret 2025 https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/jsk/article/view/9576;

doi: https://doi.org/10.25139/jsk.v9i1.9576)