UNAIR NEWS – Maraknya boneka Labubu yang diproduksi Pop Mart, perusahaan mainan asal Tiongkok, akhir-akhir ini menjadi sensasi di media sosial. Kendati sudah diproduksi sejak 2015, Labubu justru baru viral setelah Lisa Blackpink mengunggahnya di akun Instagram pribadinya. Terlebih, saat ini Pop Mart juga telah memperluas gerainya di Indonesia.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Intan Fitranisa S I Kom M Med Kom, turut mengomentari fenomena ini dalam kaitannya dengan budaya konsumen Indonesia. “Peranan dari endorser, influencer itu penting dalam menciptakan urgensi dari sebuah hal,” ungkapnya. Intan juga menambahkan bahwa peranan media sosial dalam hal ini juga yang menjadi katalisator. Ini yang akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa Labubu bisa viral.
Konsumsi Berdasarkan Emosional
Pada dasarnya, para produsen kini tidak hanya mengedepankan kualitas suatu produk. Melainkan juga mendorong emosi konsumen untuk mengonsumsi sesuatu. Tidak jarang, sisi emosional konsumen ini menghasilkan budaya konsumtif akibat dorongan perilaku konsumsi yang impulsif.
“Barang-barang yang lucu, cute itu memang menstimulasi cara berpikir kita tentang bagaimana melihat sebuah produk. Jadi men-trigger kita untuk membeli,” ungkap Intan. Ia juga menambahkan bahwa Pop Mart dalam hal ini tidak hanya menyasar anak-anak. Di samping itu, secara psikologis, mereka juga menyasar sisi ‘anak-anak’ pada orang-orang dewasa.

Menurut Intan, bentuk konsumsi ini sah-sah saja selama dapat mengukur kemampuan diri sendiri. “Intinya kamu punya budget-nya, yang tidak sehat itu ketika kamu mau beli dan harus pinjol (pinjaman online, red), harus pakai pay later. Itu yang nggak sehat,” jelasnya.
Tidak Hanya Sekadar Konsumsi
Disadari atau tidak, kini budaya konsumsi telah bergeser pada upaya untuk menunjukkan kelas sosial. Media sosial mendorong hal ini terjadi di kalangan konsumen. Menyebabkan konsumsi tidak hanya bersifat fungsional, melainkan juga berfungsi untuk menunjukkan simbol-simbol tertentu.
“Di era digital seperti sekarang, semua hal mudah untuk diviralkan, disirkulasikan secara cepat ke orang-orang. Jadi membuat hal itu seolah-olah penting, kalau kamu nggak join the trend ya you left out, ketinggalan zaman,” papar Intan.
Menanggapi fenomena konsumsi ini, Intan menyarankan untuk konsumen agar lebih mindful. “Membeli sesuatu yang tersier sudah seharusnya menjadi pertimbangan. Terutama pada kondisi ekonomi dan sosial seperti ini yang banyak PHK di mana-mana. Jadi kita sebagai konsumen juga harus punya literasi dalam hal konsumsi,” pungkasnya.
Penulis: Afifah Alfina
Editor: Yulia Rohmawati





