UNAIR NEWS – Masalah indigesti adalah kondisi ketidaknyamanan perut bagian atas ruminansia. Kejadian tersebut terjadi karena gangguan fungsi retikulum akibat abnormalitas motilitas dan fermentasi pencernaan bagian depan. Jenisnya mulai dari simple indigesti yang disebabkan sakit dari mulut yang meng anomali pH rumen, secondary indigesti, serta acid indigesti (pH dibawah 5,5-5,9). Selain itu ada alkalin indigesti (pH diatas 7,5-8,6) dan vagal indigesti akibat disfungsi saraf vagus.
Penyebab Indigesti
Dokter Hewan Praktisi Puskeswan Mantup Lamongan, drh Lely Umi Wakhidah MSi mengatakan indigesti mengakibatkan kerugian peternak. Akar permasalahan indigesti ditengarai akibat kondisi pakan yang mengakibatkan gangguan rumen. Pertama, perubahan pakan yang mendadak membuat fermentasi terganggu. Kedua, terlalu banyak memberikan urea pada pakan (alkalosis). Ketiga, konsumsi bahan yang tidak mudah tercerna seperti plastik. Keempat, konsumsi pakan sisa dapat menyebabkan asidosis. Terakhir adalah gangguan penyakit akibat pemberian pakan yang tidak layak.
“Gangguan regulasi mikroba rumen yang mengakibatkan sapi kemudian mengalami tidak nafsu makan atau anoreksia,” katanya.

Diagnosa dan Terapi Harus Tepat
Dampak indigesti tersebut adalah kembung, tidak regurgitasi, dan kurus akibat nafsu makan menurun. Perawatan indigesti memerlukan waktu dan diagnosa yang tepat untuk menentukan perawatan. Tak jarang peternak tidak sabar dan memutuskan menjual hewan ruminansia yang mengalami indigesti dengan harga sangat murah.
“Dengan kondisi rumen penyebab indigesti antara asidosis atau alkalosis, maka dibutuhkan terapi yang tepat untuk menaikkan atau menurunkan pH,” tuturnya.
Terapi Indigesti
Dokter hewan dapat menentukan supportive care melalui terapi cairan maupun terapi asam-basa yang tepat. Dengan pendampingan injeksi suportif vitamin juga dapat meningkatkan perbaikan fisiologis pili pencernaan. Terapi transfaunasi 8 hingga 16 liter cairan rumen sapi sehat dapat menjadi alternatif jika dirasa terapi belum maksimal. Terakhir, pengaturan pola makan dengan modifikasi diet dan pemberian probiotik juga mengantarkan ke kondisi normal pencernaan ruminansia.
“Terapi mengembalikan lingkungan lambung normal sehingga bakteri dan protozoa kembali melakukan tugasnya,” ujar drh Lely.
Dalam kegiatan kuliah tamu ilmu penyakit dalam hewan besar “Indigesti Pada Ruminansia” yang diselenggarakan oleh Departemen Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga. Kegiatan tersebut diselenggarakan Sabtu (9/3/2024) secara daring melalui zoom meeting. Dengan peserta kegiatan mahasiswa S1 Kedokteran Hewan dari FKH UNAIR, FIKKIA UNAIR, dan FKH UNDIKMA.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:





