Universitas Airlangga Official Website

Bukan Sekadar Navigasi, FIB UNAIR Ulas Penggunaan Digital Maps

Penyampaian materi oleh Aireen Grace Andal, PhD dalam kuliah tamu Digital Maps and Mapping pada Kamis (13/11/2025). (Foto: Istimewa)
Penyampaian materi oleh Aireen Grace Andal, PhD dalam kuliah tamu Digital Maps and Mapping pada Kamis (13/11/2025). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Departemen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Digital Maps and Mapping pada Kamis (13/11/2025) secara daring melalui Zoom. Acara menghadirkan Aireen Grace Andal, PhD, peneliti dari The International Institute for Asian Studies dan Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads, yang memaparkan konsep Narrative Cartography dan pemanfaatan ArcGIS dalam riset humaniora.

Dalam paparannya, Dr Aireen menjelaskan bahwa peta bukan hanya sekadar alat navigasi, melainkan sebuah sarana bercerita yang dapat merekam pengalaman manusia. “Kami para human geographers tidak hanya membuat peta fisik, tetapi juga memetakan ruang-ruang yang tidak resmi, ruang sosial yang hanya bisa diciptakan oleh suatu komunitas,” ujarnya.

Ia memperkenalkan ArcGIS StoryMaps, platform digital yang memungkinkan peneliti menggabungkan teks, foto, dan video dalam satu narasi visual. Melalui alat ini, peta tidak hanya menampilkan data geografis, tetapi juga kisah dan makna hidup di baliknya. 

“Jangan takut pada data. Peta bukanlah sekadar angka, tapi juga cerita tentang manusia dan tempatnya di dunia,” tambahnya.

Dr Aireen mencontohkan hasil risetnya di kawasan permukiman padat di Filipina yang kerap tidak tercantum dalam peta resmi. Ia bersama timnya membuat peta alternatif untuk menandai ruang bermain anak-anak di daerah rawan banjir. 

“Wilayah itu tidak ada di Google Maps, tapi anak-anak disana nyata, mereka punya ruang bermain dan cerita sendiri,” jelasnya.

Pemetaan tersebut bukan hanya berfungsi akademik, melainkan sebagai alat advokasi agar warga yang belum tercantum dapat mendapat perhatian sosial dari pemerintah setempat. Namun, ia juga menegaskan pentingnya etika riset dalam proses pemetaan. “Kita harus berhati-hati karena peta bisa mengungkap sekaligus membahayakan. Data memang bisa memperkuat riset kita, tapi juga bisa mengekspos orang lain,” ucapnya.

Selain riset sosial, Dr Aireen juga memperlihatkan proyek pemetaan memori di komunitas Tengger, Bromo. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak setempat diajak mendokumentasikan ruang favorit mereka sebelum wilayah itu berubah akibat pembangunan. 

“Peta bisa menjadi arsip kenangan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bisa memilih bagaimana mengingatnya,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pemetaan untuk isu kesehatan mental dan kemanusiaan, seperti lokasi rentan bunuh diri di kawasan urban, agar intervensi sosial dan fasilitas kesehatan bisa diarahkan secara tepat.

Menurut Dr Aireen, peta tidak hanya menggambarkan ruang, tetapi juga menantang cara berpikir tentang dunia dan posisi manusia di dalamnya. “Kita semua adalah kartografer. Kita punya kuasa untuk menentukan cerita apa yang ingin kita letakkan pada peta dan bagaimana kita memaknainya,” tutupnya.

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Khefti Al Mawalia