Plasenta berfungsi sebagai penghalang atau barrier penting terhadap infeksi, khususnya pada infeksi SARS-CoV-2. Sejumlah penelitian telah menghubungkan COVID-19 dengan kelainan morfologi pada plasenta.Malformasi vaskular ibu, deposisi vili fibrin, vilitis, intervillositis, dan peradangan akut adalah temuan histologis abnormal yang paling umum.Meskipun terdapat ketidakkonsistenan, bukti menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat ditemukan di dalam plasenta, dikombinasikan dengan keberadaan reseptor, memungkinkan virus menginfeksi plasenta secara langsung. COVID-19 dapat menyebabkan inflamasi berlebihan dan kerusakan sel di paru-paru, sehingga hal yang sama juga dapat terjadi pada plasenta jika SARS-CoV-2 dapat mencapai jaringan tersebut.
Berdasar hal ini, tim peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekogi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga melakukan riset untuk menilai dampak lebih lanjut dari inflamasi spesifik dan kerusakan plasenta akibat infeksi COVID-19 pada ibu hamil trimester ketiga yang bergejala. Bukti ini sangat penting karena data terbaru menunjukkan bahwa gangguan dan inflamasi plasenta dapat mempunyai kontribusi potensial terhadap dampak langsung dan jangka panjang terhadap kesehatan neonatal, mulai dari masalah perkembangan saraf hingga gangguan autisme
Penelitian ini mencakup tiga puluh dua sampel plasenta dari setiap ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala dan kehamilan normal tanpa infeksi COVID-19. Ekspresi inflamasi pada area vili plasenta (ACE-2, TMPRSS2, antibodi IFN-γ, IL-6, dan protein Spike SARS-CoV-2) dan indeks apoptosis dievaluasi menggunakan pemeriksaan imunohistokimia dan uji TUNEL. Analisis perbandingan dan korelasi digunakan berdasarkan adanya infeksi COVID-19, identifikasi protein Spike SARS-CoV-2 pada plasenta, dan tingkat keparahan infeksi pada ibu hamil
Temuan pada studi ini menunjukkan adanya protein Spike SARS-CoV-2 serta perubahan proses inflamasi dan apoptosis dapat mengindikasikan adanya gangguan plasenta pada ibu hamil trimester ketiga yang terinfeksi COVID-19. Tidak berkorelasinya antara gangguan plasenta dengan derajat keparahan infeksi pada maternal menunjukkan perlunya lebih banyak penelitian untuk memahami proses infeksi dan juga potensi dampak jangka panjang pada semua anak yang lahir dari ibu hamil terinfeksi COVID-19.
Penulis:
Manggala Pasca Wardhana, Kuntaman Kuntaman, Budi Utomo, Rozi Aditya Aryananda, Salsabila Nabilah Rifdah, Ifan Ali Wafa, Almira Aulia Shahnaz, Dahlia Ningrum, Nareswari Imanadha Cininta Marcianora, Grace Ariani, Jan MM Van Lith, Erry Gumilar Dachlan
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:





