Universitas Airlangga Official Website

Bunuh Diri, Fenomena Perlu Perhatian Serius

Sahabat saya Eddy Utomo (FE UNAIR 72) yang sama-sama mantan pengurus IKAUA 2017-2021 dengan saya, tiba-tiba mengirim WA mengutarakan kegalauannya tentang kasus bunuh diri di Indonesia. Dan karena WA-nya itu merupakan wake up call bagi semua pihak termasuk saya, maka saya langsung menulis artikel ini.

Dari berbagai sumber yang saya amati, meskipun angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia ini jauh lebih rendah dari pada kejadian di Jepang, namun menurut sebuah studi pada tahun 2022 menemukan bahwa angka bunuh diri di Indonesia mungkin empat kali lebih besar dari pada data resmi. Kurangnya data telah menyembunyikan skala sebenarnya dari persoalan bunuh diri di Indonesia, menurut sejumlah pakar. Padahal, WHO mengatakan bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar keempat di antara orang-orang berusia 15-29 tahun di seluruh dunia pada 2019.

Studi tahun 2022 itu, yang belum melalui proses telaah sejawat, membandingkan data kepolisian, yang merupakan data resmi untuk bunuh diri, dengan Sample Registry System (SRS) di Kementerian Kesehatan. Dr. Sandersan Onnie, mahasiswa pasca-doktoral di Black Dog Institute Australia dan peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan angka bunuh diri yang sebenarnya bisa jauh lebih besar dari yang terlapor. Penyebabnya, berbagai masalah dalam alur pendataan.

“Di setiap proses dalam alur ini bisa terjadi ada error-nya atau ada flaw-nya. Di mana misalnya keluarganya tidak bersedia memberi tahu polisi karena mereka malu karena stigma. Ataupun karena polisinya itu juga ingin melindungi keluarganya maka tidak ada investigasi lebih jauh karena ini bunuh diri. Kalau ada dokter di rumah sakit juga sama, untuk melindungi keluarganya tidak melaporkan bahwa ini bunuh diri,” kata dr. Sandy.

Fenomena Bunuh Diri

Merujuk data SRS pada tahun 2018, yang sudah disesuaikan dengan estimasi kelengkapan survei 55 persen, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,12 per 100.000 penduduk. Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 adalah 267,1 juta jiwa. Ini berarti ada 2.992 kematian akibat bunuh diri di tahun tersebut. Sedangkan menurut data dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), angkanya meningkat secara signifikan tiap tahunnya. Berdasarkan data terbaru, Polri melaporkan bahwa terdapat 663 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari-Juli 2023.

Berdasarkan sebaran provinsi, tercatat bahwa Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kasus bunuh diri terbanyak mencapai 253 kasus sepanjang periode 1 Januari – 20 Juli 2023. Selanjutnya, Jawa Timur dan Bali dengan jumlah kasus mencapai 128 kasus dan 61 kasus pada periode yang sama. Di samping itu, sekitar 483 kasus bunuh diri dilaporkan terjadi di wilayah perumahan dan permukiman. Selain dua lokasi tersebut, perkebunan dan perkantoran ternyata juga mencatatkan kejadian bunuh diri terbanyak. Yakni sebanyak 71 kasus dan 7 kasus.

Di negara maju seperti Jepang, pembangunan yang cepat dan modern menyebabkan tingkat kompetisi di tengah masyarakat sangat tinggi dan hal ini menyebabkan tingkat stres masyarakatnya juga tinggi. Bagi yang gagal dalam keompetisi itu mereka mengambil jalan pintas untuk melakukan bunuh diri. Pembangunan ekonomi Jepang yang modern menyebabkan ada sebagian warga yang tersingkirkan dari masyarakat. Menyebabkan mereka menyendiri di kamar sambil memikirkan kesulitan hidupnya.

Saya bukan dokter jiwa by training. Namun sementara ini yang saya amati fenomena bunuh diri di Indonesia karena berbagai hal. Misalkan himpitan hidup karena situasi ekonomi yang susah atau bertubi-bertubi didatangi debt collector. Ada juga kurangnya pemahaman tentang ajaran agama yang luhur, kasus meningkatnya perundungan di kalangan remaja, dan sebagainya. Karena itu, kasus bunuh diri di Indonesia ini melibatkan warga dari berbagai umur. Ada murid SMP, SMA, mahasiswa, dan ibu-ibu rumah tangga.

Perlu Perhatian Serius

Beberapa ahli ekonomi dari dalam dan luar negeri mengatakan Indonesia akan menjadi negara dengan besaran ekonomi terbesar nomor 4 di dunia dalam beberapa tahun mendatang. Tentu diharapkan tidak akan muncul biaya sosial atau social cost yang tinggi seperti yang terjadi di Jepang. Fenomena ini perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, baik pemerintah, tokoh-tokoh agama, LSM, dan para akademisi. Hal ini merupakan wake up call yang harus segera diatasi, agar kemajuan ekonomi bangsa tidak memiliki dampak negatif.

Saya sebagai bagian dari civitas akademika UNAIR berharap ada rekan-rekan sejawat dari berbagai fakultas terutama fakultas psikologi, fakultas kedokteran, fakultas ekonomi, dan fakultas-fakultas lainnya melakukan kajian yang mendalam untuk mencari solusi strategis dalam menyelesaikan maslah fenomena bunuh diri ini. In depth discussion dari para Ksatria Airlangga akan menjadi masukan strategis bagi pemerintah dan masyarakat umum.

Semoga.