Universitas Airlangga Official Website

CD81: Penanda MSC surface marker Baru yang Menjanjikan untuk Sel Punca Mesenkimal dari Jaringan Lemak Viseral Kelinci

Sumber: One Health Laboratory Network
Sumber: One Health Laboratory Network

Kelinci telah lama dikenal sebagai hewan laboratorium yang berperan penting dalam menjembatani riset dasar menuju penerapan klinis. Kemiripan fisiologis dengan manusia, ukuran tubuh yang sesuai, serta respons imun yang relatif dapat dikendalikan menjadikan kelinci sebagai model ideal dalam banyak penelitian biomedis. Namun, meskipun potensinya besar, eksplorasi terhadap sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells atau MSC) dari kelinci masih menemui hambatan, terutama dalam hal standarisasi karakterisasi sel. Padahal, karakterisasi yang tepat sangat penting untuk memastikan bahwa sel yang digunakan benar-benar memiliki kemampuan regeneratif yang diharapkan, dan ini menjadi salah satu prasyarat utama dalam pengembangan terapi berbasis sel.

Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab tantangan ini dengan fokus pada pencarian penanda permukaan baru yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi MSC dari jaringan lemak viseral kelinci secara lebih akurat dan konsisten. Dalam penelitian ini, tiga ekor kelinci jantan jenis New Zealand White berumur dua bulan dan masing-masing berbobot sekitar dua kilogram digunakan sebagai donor jaringan lemak. Dari jaringan ini, peneliti berhasil mengisolasi sel punca mesenkimal yang kemudian disebut sebagai Rabbit Adipose-Derived Mesenchymal Stem Cells (Rab-ADMSC).

Sel-sel ini kemudian dikarakterisasi melalui berbagai uji biologis. Secara morfologis, Rab-ADMSC menunjukkan ciri khas MSC yang biasanya berbentuk fibroblastik, memanjang, dan menyebar. Tidak hanya itu, sel-sel ini juga menunjukkan kemampuan untuk berkembang menjadi tiga jenis jaringan yang berbeda, yakni jaringan lemak (adipogenik), jaringan tulang (osteogenik), dan jaringan tulang rawan (kondrogenik), yang merupakan indikator penting dari potensi diferensiasi multipoten MSC. Selain itu, kemampuan klonogenik—yakni kemampuan satu sel untuk memperbanyak diri dan membentuk koloni—juga diamati, menunjukkan bahwa Rab-ADMSC memiliki potensi regeneratif yang menjanjikan.

Langkah berikutnya dalam penelitian ini adalah analisis penanda permukaan sel. Penanda ini penting karena menjadi identitas molekuler dari MSC dan digunakan untuk memisahkan serta mengenali MSC dari jenis sel lainnya. Dengan menggunakan teknik flow cytometry, peneliti mengevaluasi empat penanda permukaan: CD81, CD29, CD34, dan CD45. Hasilnya menunjukkan bahwa CD81 muncul sebagai penanda yang konsisten dan stabil pada Rab-ADMSC. Sementara CD29 juga terdeteksi, ekspresinya tidak setinggi CD81, dan dua penanda lainnya—CD34 dan CD45—yang biasanya menandai sel hematopoietik (sel darah), tidak menunjukkan ekspresi signifikan pada Rab-ADMSC, yang menguatkan bahwa populasi sel yang diuji bukan berasal dari lini sel darah.

Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa CD81 dapat diusulkan sebagai kandidat penanda permukaan baru yang menjanjikan untuk karakterisasi MSC dari kelinci, khususnya dari jaringan lemak viseral. Temuan ini memiliki dampak besar karena menjadi langkah awal menuju standardisasi protokol karakterisasi MSC kelinci, yang selama ini belum tersedia secara jelas. Standardisasi ini sangat penting untuk memastikan reprodusibilitas hasil riset, serta untuk mempersiapkan MSC sebagai kandidat terapi yang andal di masa depan.

Lebih jauh, temuan ini juga berkaitan erat dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Penelitian ini mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan, karena membuka jalan bagi pengembangan terapi regeneratif berbasis sel yang lebih akurat dan aman. Dalam jangka panjang, terapi seperti ini dapat digunakan untuk menangani berbagai kondisi degeneratif atau cedera jaringan yang selama ini sulit diobati. Selain itu, penelitian ini juga sejalan dengan SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur karena berkontribusi pada pengembangan teknologi biomedis yang merupakan bagian dari industri inovatif masa depan. Bahkan dari sisi etika dan efisiensi, penelitian ini juga mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena penggunaan hewan laboratorium dilakukan secara efektif dan beretika, dengan jumlah minimal namun menghasilkan informasi ilmiah yang maksimal.

Penemuan CD81 sebagai kandidat penanda permukaan baru untuk MSC dari jaringan lemak kelinci adalah kontribusi ilmiah yang penting dalam bidang biomedis dan kedokteran regeneratif. Dengan validasi lebih lanjut, temuan ini berpotensi besar untuk digunakan dalam skala yang lebih luas, termasuk dalam terapi translasi yang menjembatani laboratorium dan praktik klinis. Penelitian ini menunjukkan bahwa dari model hewan laboratorium seperti kelinci, kita bisa mendapatkan pemahaman yang dalam mengenai biologi sel punca, yang pada akhirnya bisa memberikan manfaat besar bagi kesehatan manusia secara global.

Ditulis Oleh: drh. Suryo Kuncorojakti, M.Vet., Ph.D.

Disarikan dari Jurnal ilmiah: https://doi.org/10.20473/jmv.vol8.iss1.2025.1-9

Baca juga: Ancaman Tersembunyi di Balik Produktivitas Telur: APEC dan Harapan Baru dari Kombinasi Acidifier-Dekstrosa