Universitas Airlangga Official Website

CEO Insider from CFO: Implikasi pada Pengungkapan Risiko Keuangan

Ilustrasi keuangan (Foto: Pexels)
Ilustrasi keuangan (Foto: Pexels)

Pengungkapan risiko keuangan (Financial Risk Disclosure/FRD) memainkan peran vital dalam memastikan transparansi informasi keuangan perusahaan, membangun kepercayaan investor, serta menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi. Di tengah dinamika global dan risiko ekonomi yang semakin kompleks, kualitas pengungkapan risiko menjadi sorotan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia yang sistem tata kelolanya relatif lemah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh CEO yang berasal dari jabatan CFO (Chief Financial Officer) dalam perusahaan yang sama—disebut sebagai CEO Insider from CFO—terhadap kualitas pengungkapan risiko keuangan (FRDQ). Dengan mengadopsi pendekatan Upper Echelons Theory, penelitian ini mengasumsikan bahwa latar belakang dan pengalaman eksekutif senior memengaruhi cara mereka memahami, menafsirkan, dan mengomunikasikan risiko keuangan kepada publik.

Menggunakan data 1.243 observasi dari perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2010–2020, analisis dilakukan melalui regresi OLS, serta diuji ketangguhannya dengan Heckman Two-Stage Model dan Coarsened Exact Matching (CEM). Hasil utama menunjukkan bahwa CEO yang merupakan mantan CFO memiliki pengaruh signifikan positif terhadap FRDQ. Ini menunjukkan bahwa pengalaman dalam pengelolaan keuangan dan pemahaman mendalam tentang kondisi internal perusahaan dapat meningkatkan kualitas informasi risiko yang diungkapkan. Selain itu, penelitian ini juga melakukan analisis sub-sampel berdasarkan beberapa variabel seperti profitabilitas perusahaan, kualitas auditor (Big 4 vs non-Big 4), gender CEO, dan lamanya masa jabatan CEO. Hasilnya, pengaruh positif CEO insider dari CFO terhadap FRDQ lebih kuat pada perusahaan yang: (1) mencetak laba, (2) diaudit oleh KAP Big 4, (3) dipimpin oleh CEO laki-laki, dan (4) memiliki CEO dengan masa jabatan yang panjang. Misalnya, dalam perusahaan profitabel, mantan CFO yang menjadi CEO lebih termotivasi untuk mengungkapkan risiko secara terbuka demi menjaga reputasi dan menarik minat investor.

Temuan ini memperkaya literatur dengan menunjukkan bahwa latar belakang CFO bukan hanya aset teknis, tetapi juga strategis dalam konteks kepemimpinan perusahaan. Hal ini mendukung peran interpretatif CEO dalam kerangka teori Upper Echelons, di mana pengalaman masa lalu membentuk pola pengambilan keputusan manajerial. Dari sudut pandang praktis, temuan ini menjadi pertimbangan penting bagi dewan direksi dalam melakukan suksesi CEO, khususnya untuk posisi yang memerlukan kepemimpinan berbasis transparansi dan manajemen risiko. Selain itu, regulator dapat mempertimbangkan aspek latar belakang eksekutif dalam merancang kebijakan yang mendorong praktik pengungkapan risiko yang lebih baik.

Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti tidak mempertimbangkan karakteristik non-keuangan lainnya dari CEO, seperti pendidikan, afiliasi almamater, atau rekam jejak media. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi variabel-variabel tersebut serta dampak jangka panjang dari peningkatan FRDQ terhadap kinerja perusahaan dan respons pasar. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pemilihan CEO dengan latar belakang CFO dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat tata kelola perusahaan melalui peningkatan kualitas pengungkapan risiko keuangan.

Penulis: Sri Ningsih*, Muhammad Irsyad Elfin Mujtaba, Muhammad Sabrian Oehoedoe, Siti Nur Aini

Untuk informasi lebih lanjut, penelitian ini dapat diakses dengan link berikut ini:

https://scholarhub.ui.ac.id/jaki/vol22/iss1/2