Universitas Airlangga Official Website

Cerdas Emosi, Cerdas Nutrisi: Kunci Cegah Anemia pada Ibu Hamil

Ilustrasi Ibu Hamil (Sumber: Haibunda)
Ilustrasi Ibu Hamil (Sumber: Haibunda)

Anemia pada ibu hamil masih menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia kesehatan, terutama di Indonesia. Trimester ketiga adalah masa kritis ketika tubuh ibu membutuhkan lebih banyak zat besi dan nutrisi penting lainnya untuk mendukung pertumbuhan janin yang pesat. Sayangnya, banyak ibu hamil yang belum berhasil memenuhi kebutuhan gizinya. Kondisi ini bukan hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau faktor ekonomi, tetapi juga karena faktor psikologis yang jarang disadari: kecerdasan emosional (emotional intelligence).

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosinya sendiri serta menjalin hubungan sosial yang sehat. Dalam konteks kehamilan, terutama di trimester ketiga, kemampuan ini menjadi sangat penting. Ibu hamil yang mampu memahami perasaannya sendiri, mengelola stres, dan menjaga motivasi cenderung memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat. Sebaliknya, stres yang tidak terkendali atau tekanan emosional bisa membuat ibu kehilangan selera makan atau memilih makanan tidak sehat, meski mereka tahu apa yang seharusnya dikonsumsi.

Sebuah penelitian yang dilakukan di dua puskesmas di Jawa Timur melibatkan 113 ibu hamil trimester ketiga. Hasilnya menunjukkan bahwa ibu dengan self-awareness (kesadaran diri) yang tinggi lebih mampu memilih makanan sehat, tetapi tidak semua dari mereka memiliki status gizi yang baik. Ini menunjukkan bahwa kesadaran saja tidak cukup; dibutuhkan self-regulation atau kemampuan mengatur emosi agar perilaku sehat bisa dijalankan secara konsisten. Selain itu, dimensi lain seperti motivasi, empati, dan keterampilan sosial juga berpengaruh. Ibu yang memiliki motivasi kuat dan mendapat dukungan sosial yang baik lebih mungkin menjaga pola makan yang sehat selama kehamilan.

Hasil studi ini memberikan pesan penting: pencegahan anemia pada ibu hamil perlu dilakukan secara holistik, tidak hanya fokus pada suplemen atau edukasi gizi, tetapi juga dengan memperhatikan aspek psikologis ibu. Tenaga kesehatan bisa berperan lebih aktif dengan memberikan konseling yang empatik, membangun hubungan yang hangat, dan memfasilitasi kelas kehamilan yang tidak hanya membahas fisik, tetapi juga mental dan emosional. Selain itu, dukungan dari keluarga, terutama pasangan, sangat membantu ibu hamil menjalani masa kehamilan dengan lebih tenang dan penuh semangat.

Dengan membangun kecerdasan emosional ibu hamil, kita tidak hanya membantu mereka menjalani kehamilan yang lebih sehat secara fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan mental mereka menjelang persalinan dan menjadi ibu. Maka dari itu, mari kita ubah cara pandang dalam menangani anemia selama kehamilan: bukan hanya dengan tablet zat besi, tetapi juga dengan pendekatan yang lebih menyentuh hati dan pikiran.

Penulis: Dr. Mira Triharini, S.Kp., M.Kep.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://ijhn.ub.ac.id/index.php/ijhn/article/view/785