Universitas Airlangga Official Website

ChatGPT dan Masa Depan Layanan Referensi Perpustakaan

Ilustrasi Penggunaan ChatGPT (Sumber: Inilah.com)
Ilustrasi Penggunaan ChatGPT (Sumber: Inilah.com)

Perkembangan teknologi telah mengubah wajah layanan referensi di perpustakaan. Jika pada masa lalu pustakawan mengandalkan koleksi fisik untuk menjawab pertanyaan pengguna, kini kebutuhan informasi semakin kompleks dan beragam. Munculnya internet, mesin pencari, dan layanan berbasis teknologi informasi seperti email, konferensi virtual, hingga layanan “ask-a-librarian” memungkinkan layanan referensi dilakukan secara virtual kapan saja dan di mana saja. Meski memberikan kemudahan, layanan 24/7 ini juga memunculkan tantangan baru seperti beban kerja yang meningkat, risiko kelelahan, dan tuntutan untuk memberikan jawaban yang cepat sekaligus akurat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perpustakaan mulai mengadopsi teknologi chatbot. Generasi awal chatbot, smartbot, dan talking robot sempat menawarkan solusi, tetapi cepat terbentur keterbatasan seperti biaya lisensi yang tinggi, antarmuka yang rumit, serta kemampuan yang terbatas dalam menjawab pertanyaan kompleks atau memberikan informasi terbaru. Kemunculan generasi baru chatbot berbasis Generative Pre-trained Transformers (GPT), seperti ChatGPT, menjadi terobosan karena mampu memahami bahasa alami dan memberikan interaksi yang lebih cerdas, responsif, serta kontekstual.

ChatGPT menghadirkan kemampuan yang membuatnya relevan dalam mendukung layanan referensi. Teknologi ini dapat menangani pertanyaan yang kompleks, menyesuaikan jawaban dengan kebutuhan pengguna secara langsung, serta memberikan informasi yang akurat dan relevan. Pustakawan dapat memanfaatkannya untuk membantu pencarian literatur, menyusun sinopsis, memberikan ulasan buku, mengedukasi pengguna tentang literasi informasi, atau membimbing penulisan. Kemampuannya juga memungkinkan pustakawan menghemat waktu dan mengalokasikan tenaga untuk menangani pertanyaan penelitian yang lebih mendalam.

Meski demikian, ChatGPT bukan tanpa kelemahan. Beberapa masalah yang kerap muncul meliputi informasi yang keliru atau tidak relevan, bias dari data pelatihan, keterbatasan dalam memahami konteks lokal, serta isu privasi pengguna. Oleh karena itu, pustakawan tetap perlu melakukan verifikasi terhadap jawaban yang dihasilkan, memastikan kredibilitas sumber, dan melengkapi informasi dengan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Agar pemanfaatan ChatGPT optimal, pustakawan perlu menguasai keterampilan baru yang disebut prompt engineering. Keterampilan ini mencakup kemampuan merancang instruksi yang jelas, spesifik, dan kontekstual sehingga AI dapat memberikan jawaban yang tepat. Berbeda dengan pencarian kata kunci biasa, prompt engineering menuntut pemahaman akan konteks, format, dan gaya jawaban yang diinginkan. Dengan kemampuan ini, pustakawan dapat meminimalkan kesalahan, meningkatkan relevansi hasil, dan memanfaatkan ChatGPT secara efektif untuk layanan referensi.

Perlu diingat bahwa ChatGPT sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti pustakawan. Manusia memiliki keunggulan dalam hal keterampilan riset, kolaborasi komunitas, pengelolaan data yang kompleks, serta pemahaman konteks lokal yang tidak dapat digantikan AI. Dengan memposisikan ChatGPT sebagai asisten digital, pustakawan dapat menggabungkan efisiensi teknologi dengan sentuhan personal yang tetap penting bagi pengalaman pengguna.

Dengan integrasi yang tepat, ChatGPT dapat membuka peluang baru untuk menjadikan layanan referensi lebih cepat, efisien, dan relevan. Kuncinya adalah penguasaan keterampilan prompt engineering, verifikasi informasi, dan penekanan pada etika serta personalisasi layanan. Dengan demikian, perpustakaan dapat tetap menjadi pusat pengetahuan yang terpercaya, adaptif, dan inklusif di era digital.

Penulis: Nove Eka Variant Anna, S.Sos., MIMS.

Informasi detail terkait artikel dapat dilihat pada: Handbook of Trends and Innovations Concerning Library and Information … – Google Buku