Universitas Airlangga Official Website

CTGF: Jembatan Perantara dalam Pathogenesis Penyakit Fibrosis Paru

Foto by Halodoc

Ibarat sebuah jembatan, maka protein Connective Tissue Growth Factor (CTGF) merupakan adalah molekul pensinyalan dan pengatur utama yang terlibat dalam berbagai proses biologis, seperti proliferasi sel, angiogenesis, dan penyembuhan luka. Selain itu, CTGF juga berperan dalam berbagai keadaan patologis dan penyakit, seperti perkembangan tumor dan fibrosis jaringan.

Ekspresi berlebihan dari protein matriseluler CTGF, merupakan ciri fibrosis di beberapa jaringan dalam mediasi efek pro-fibrotik dari faktor pertumbuhan TGF-b. CTGF adalah mediator utama fibrosis paru yang diinduksi TGF- b. CTGF ditemukan diekspresikan secara berlebihan pada lesi fibrotik pada organ utama, termasuk paru-paru, ginjal, hati, kulit, sistem kardiovaskular, sistem gastrointestinal, mata, dan gingiva.

Salah satu penyakit yang sangat berkaitan dengan respon berlebihan CTGF adalah fibrosis paru atau idiopathic pulmonary fibrosis (IPF). Dengan demikian tidak mengherankan apabila CTGF juga menjadi target terapi penyakit IPF. Obat-obatan yang bekerja untuk menghambat kerja CTGF merupakan kandidat terbaru untuk mengentikan progresifitas fibrosis paru.

CTGF dan IPF

Penyakit IPF sangat berkaitan dengan malfungsi dari sel-sel seperti sel epitel, sel fibroblast, dan sel makrofag. CTGF ternyata juga berperan dalam abnormalitas fungsi sel-sel tersebut. CTGF mendorong penyimpangan mekanisme respons terkait dengan cedera yang dapat bertindak secara langsung atau tidak langsung pada metabolisme matriks.

CTGF mengatur fungsi epitel / fibroblas alveolar dan bertindak sebagai mediator dalam menghubungkan jalur pensinyalan perubahan sel epitel alveoli menjadi sel mesenchimal (epithelial-mesenchymal transition atau EMT) atau perubahan sebalinya, mesenchymal menjadi epitel (mesenchymal-epithelial transition atau MET). Lebih lanjut, CTGF juga mempromosikan proliferasi fibroblas.

Telah ditunjukkan dalam banyak penelitian bahwa CTGF mengatur produksi radiakal beba atau ROS yang mendorong ketidakseimbangan dinamika mitokondria dan apoptosis. Hilangnya kontrol mitokondria menyebabkan sel epitel alveoli menjadi sensitif terhadap apoptosis, tetapi miofibroblas menjadi resisten apoptosis. Selain itu, ekspresi CTGF yang tinggi terkait dengan disregulasi polarisasi makrofag.

Lebih lanjut, jalur pensinyalan spesifik dalam disfungsi mitokondria terkait penuaan melibatkan stimulasi CTGF yang mengubah metabolisme seluler. Dalam penuaan seluler, sejumlah besar produksi CTGF dapat memicu fibrosis terkait metabolisme-disregulasi seluler. CTGF mengatur pengambilan glukosa dalam fokus fibrotik untuk mempertahankan akumulasi ECM dan lesi fibrotik, sementara sel epitel alveolar, yang bertanggung jawab untuk metabolisme lipid dan produksi surfaktan, mengubah metabolisme lipid.

Singkatnya, CTGF adalah salah satu faktor pro-fibrotik yang paling banyak dipelajari yang memediasi faktor pertumbuhan lain dalam patogenesis fibrosis paru secara hilir. CTGF mendahului jalur pensinyalan dari rangsangan eksternal dan / atau internal yang memediasi disregulasi metabolik dan disfungsi mitokondria, yang berkontribusi pada penuaan seluler dan mengarah ke proses fibrotik.

Penjelasan lebih lanjut tentang peran CTGF dalam pathogenesis IPF bisa dibaca lebih detil dalam artikel kami dengan mengakses tautan berikut:

Penulis: Wiwin Is Effendi

Link Jurnal: https://www.mdpi.com/1422-0067/23/11/6064

Judul: Connective Tissue Growth Factor in Idiopathic Pulmonary Fibrosis: Breaking the Bridge